Rabu, 07 Juni 2017

Masbuk

"Bisakah hati kita benar-benar lepas dari Prasangka?"
source : dailymoslem

Kemarin adalah puasa ramadhan ke sebelas di tahun ini. Seperti biasa, bulan puasa ini aku jalani sendirian, jauh dari keluarga. Seperti biasa juga aku berusaha untuk lebih memperbanyak shalat berjamaah di mesjid. Biasanya magrib aku juga berbuka puasa sekalian di mesjid, karena pengurus menyediakan takjil untuk dinikmati jamaah. Tapi hari ini sedikit berbeda. Dan disinilah pertanyaan itu muncul kembali,

"Bisakah hati kita benar-benar lepas dari prasangka?".
Hari itu aku berbuka puasa di kost. Sorenya jalan-jalan ke pasar bedug dan melihat aneka takjil yang menggoda. Dan aku melihat es cendol  yang penampilannya mirip sekali dengan kolak cendol yang biasa dibuat almarhumah nenek dulu. Jadi hari itu aku putuskan untuk absen berbuka di mesjid.

Berbuka puasa sendiri dengan takjil yang mengingatkan pada orang yang kita sayangi membuatku sedikit lalai. Hingga tak terasa orang sudah imam sudah membaca surat al- fatihah di mesjid.Tak ingin ketinggalan aku buru-buru ke mesjid dan mendapati sudah ada tiga saft terisi penuh.

Di saft ketiga ada ruang untuk orang lagi, aku bisa masuk kesana. Tapi aku melihat juga ada orang lain yang baru datang, sendirian. Dia memakai gamis khas ustad-ustad penceramah. Jadi kupikir beliau sangat paham masalah agama.

Aku teringat perkataan salah seorang guru mengajiku dahulu tentang makmum masbuk (terlambat). Hendaknya Shalat jamaah itu saf terdiri dari minimal dua orang. Karena kalu hanya satu orang itu sama saja dengan sholat sendiri. Jika sekiranya kamu terlanjur telat (masbuk) dan saf di depan sudah penuh, boleh menarik salah satu jamaah di depan untuk menemanimu di belakang.

Mengingat itu aku sengaja membiarkan ruang kosong di saf ke tiga, karena kalau aku mengisinya berarti orang yang baru datang itu akan sendirian di saf ke empat. Tapi di luar dugaan, bapak-bapak itu justru mengisi ruang yang kosong itu dan membiarkan saya sendiri di saf ke empat. Saat itu benakku dipenuhi berbagai tanda tanya, shalatku tidak khusuk.

"Mengapa bapak itu justru mengisi saf yang sengaja kutinggalkan supaya dia tidak tidak shalat sendirian di saf ke emapt?"

"bukankah seharusnya dia lebih tahu?"

"Apa aku harus menariknya ke belakang supaya tidak sendiria?"

"Atau apa yang dibilang guru ngajiku dulu tidak sepenuhnya benar?"

Beberapa pertanyaan terus silih berganti diantara bacaan ayat pendek dari imam. Sekeras apapun aku berusaha untuk berpikiran positif, tetap saja aku masih diliputi pertanyaan. Jadi pertanyaan itu terjawab sudah, ternyata hatiku tak pernah benar-benar bisa lepas dari prasangka. Setidaknya ada satu pelajaran yang bisa kupetik. Jangan jadi makmum masbuk, datanglah tepat waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo, tinggalkan jejak... :)