Selasa, 26 Januari 2016

Putri, Bintang Jatuh dan Gelombang

Beberapa hari terakhir ini Rana selalu dihantui mimpi yang sama. Ia berada disebuah tempat asing. Disana ia ditunggu lima orang seusianya, tiga laki-laki dan tiga perempuan.
"Sudah saatnya Rana, perang akan segera dimulai. Kau harus mengingat semuanya sekarang".
Dan Rana selalu terbangun setelah mendengar kata-kata itu, tanpa pernah mengingat dengan jelas wajah mereka. Yang jelas ia merasa memiliki kedekatan dengan kelima orang itu.
Sampai akhirnya ia menerima email dari seorang "teman lama", - setelah beberapa tahun belakangan tidak terdengar kabarnya.

"Tidak ada waktu lagi Putri. Mereka telah lebih dulu menyadari siapa kamu sebelum kau terbangun. Rumahmu sudah tidak aman lagi. Segera temukan yang lain sebelum mereka menemukanmu. Datanglah ke bandara besok pagi, peretas mimpi akan menuntunmu

Supernova"

***
Rana tidak pernah meragukan supernova, pagi itu ia bersiap-siap ke bandara menunggu orang yang disebut supernova peretas mimpi.
"Kau tidak akan kemana mana Rana", Arwin mencegatnya dengan tatapan yang bengis dan sangat berbeda. Pusau dapur di tangan Arwin hanya beberapa senti saja dari tubuhnya. Sekuat tenaga Rana berhasil meloloskan diri dan lari ke mobilnya. Mobilnya melaju kencang kearah bandara disusul Arwin yang masih mengejarnya. Di bandara, Rana yang kebingungan merasakan sakit kepala yang hebat sementara Arwin semakin dekat. Arwin hampir menangkapnya ketika sesosok pemuda meraihnya dan melempar Arwin jauh ke belakang. Mendadak Rana menangis, ia ingat semuanya. Ia ingat siapa pemuda di depannya, yang juga masih merasakan sakit kepala sepertinya.
"Gelombang".

#fanfiksisupernova
#menungguintelegensiembunpagi