Jumat, 13 September 2013

Aku Mati... (Writing Challenge: Death Scene)

"Maafkan Lany kak,...",

Lani merangkul tubuhku yang bersimbah darah di pangkuannya. Aku berusaha berontak. Tak sudi dipegang olehnya. Pengkhianat. Tanganku masih meraba dada kiriku yang barusan ditembus timah panas. Tatapanku penuh kebencian ke arah Lani yang masih tersedu sedu. Hampir saja, hampir saja aku menuntaskan dendam ayah dan ibu. Semuanya akan selesai kalau semua tersusun sesuai rencana. Tapi Lany merapuh dan menggagalkan semuanya.

"Kau telah mengkhianati ayah dan ibu, Lany. Dan sekarang lihat kau juga membuatku terbunuh Lany. Hanya demi perempuan buta itu?", Perih di dadaku semakin terasa. Air mata LAny telah menggenang sampai ke pipinya. Sementara di belakangnya berdiri tante Cindy. perempuan buta yang harusnya sekarang jadi korban. Bukan aku.

"Hatimu dikuasai dendam nak", tante Cindy berusaha menyentuh wajahku. Buru-buru kutepis tngan nista itu. Selamanya aku akan membenci perempuan ini. Karena dia adalah istri Pratomo Mandala.

Beberapa detik kemudian orang-orang berseragam putih menggotongku ke tandu dan membawaku ke ambulance. Lany terus berada di sisiku, masih menangis.

"Kakak harus bertahan",

"Cih, bukankah ini yang kauinginkan.", ku masih belum bisa memaafkannya. Rencana ini telah lama kami susun.

"Tapi tante Cindy nggak salah kak, dia nggak tahu papa udah menikah"

"Tapi dia menikmati semua yang hrusnya jadi milik kit Lany. Sementra kita harus berjuang demi sesuap nasi. Mengenal dan menikahi Pratomo mandala adalah dosa terbesarnya", Sekarang seluruh tubuhku terasa sakit. Dadaku sesak, aku hampir tak bisa bernapas.
"Kak Revan, aku sayang kakak. Sudahi semuanya kak, aku mohon", Suara Lany serak krena terlalu banyak menangis. Ia memelukku. dpat kurasakan air matanya mengenai mukaku. Kali ini aku tak menepisnya, karena sungguh gadis ini yang membuatku tetap bertahan. Perlahan air mataku menggenang. Menangisi nasibku yang tak beruntung. Aku tahu waktuku sudah dekat, jadi kunikmati waktuku bersama Lany.

"Lany, kakak minta maf karena sudah membawamu dalam pusaran dendam ini. Tapi kakak ingin kamu tahu bahwa kakak sangat menyayngimu", Suaraku melemah menjadi bisikan lirih. Kutatap Lany yng terus sesenggukan.
"Mungkin kamu benar...kita harus mengakhiri semua...nya", entah suaraku sempat keluar atau tidak. Sakitku menyatu, seluruhnya bagai dihempaskan ke dalam ruang hampa yang hanya dipenuhi rasa sakit. Lalu aku tidak merasakan apa-apa lagi, tidak melihat apa-apa, juga tidak mendengar apa-apa.

Aku mati... Membawa segumpal dendam yang belum sempat terbalaskan.

Sumber Gambr : http://www.neelyreynolds.com/photos-group-92.html