Sabtu, 09 Februari 2013

Warna Cinta

Sebenarnya, saya dan mungkin juga anda sudah sangat muak dengan cinta. Cinta, cinta dan cinta lagi. Mulai dari sejak bangun pagi, tetangga telah menyetel keras-keras lagu-lagu galau tentang cinta. Lalu anda naik angkot, lagu cinta lagi. Dan di paling sudutnya sekelompok ABG labil berbisik malu-malu lalu ngikik gak jelas. Apalagi coba yang dibicarakan kalau bukan cinta. Ketika anda tiba di tempat sekolah atau tempat kerja, seorang rekan anda memaksa untuk mendengar ceritanya. Apalagi coba yang diceritakan kalau bukan si cinta itu.
Ironi memang, ketika semua orang menggadang-gadangkan cinta. Saat itu terjadi pemusnahan, peperangan. Apa sebenarnya semua orang telah salah berpersepsi selama ini. Bahwa cinta memiliki korelasi dengan perang, entahlah. Mungkin saja cinta itu memang berwajah ganda.
Jadi sebenarnya apa warna cinta itu? Kalau mbak Maya bilang cinta itu berwarna putih, mungkin benar adanya. "Di atas putih, warna seperti apa pun, sehalus dan sesamar apa pun, pasti akan tampak dengan jelas". Cinta itu putih bagi orang yang telah memahaminya. Tapi bagiku, cinta tetap tak terdefinisi, terlihat tapi tak teridentifikasi. Bahkan untuk mengatakan cinta itu tak berwarna, tak bisa. Karena kadang cinta terlihat ungu, biru. Namun kadang-kadang juga membiaskan buram hitam. Begitulah cinta, sama misteriusnya dengan zat-zat transedentis. Tak pernah ada jawaban yang benar. Yang pasti semua orang bisa mewarnai sendiri cintanya. Mau berwarna putih, hitam, merah darah, merah jambu atau tidak berwarna sama sekali. Tentukan sendiri, Jadi warna apa yang akan kau torehkan pada cintamu?

Dalam Semesta Hujan

Desember ~ 1997
Satu persatu teman-teman mulai berlarian menempuh saja hujan yang saat itu lumayan lebat. Mereka tertawa riang, aku ingin mengikuti mereka. Tapi teringat larangan ibu untuk tidak main hujan-hujanan. Dan ibu pasti akan menjemputku. Aku percaya, bersama teman-teman lain yang menunggu ibunya aku berdiri di teras kelas. Melihat jarum-jarum air menghujam tanah, menyebarkan aroma yang tiba-tiba kusukai. Belum lagi melodi yang diciptakannya ketika menghujam genteng. Di taman kecil depan sekolah aku melihat air mengguyur dari daun-daun pohon palem. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta pada hujan.
"Arin...ayo pulang", Tante Lina, tetanggaku datang menjemput Arin. Teman sekelasku. Arin gembira sekali berlari menuju tante Lina. Tante Lina membaya payung besar bergambar logo teh bendera. Payungnya bisa memuat tiga orang. Bisa nambah satu lagi. Aku berharap Arin mengajakku.
"Masih muat ron, ayo ikut bersamaku", Lina melambaikan tangannya pada Ronal. Yang rumahnya lebih dekat dari kami berdua. Ronal kegirangan berlari kearah Arin dan tante Lina. Dan untuk pertama kalinya aku merasa cemburu. Sudah hampir setengah jam, tapi ibu belum datang juga. Aku mulai gelisah. Hanya tinggal beberapa orang yang masih ada di teras. Sampai akhirnya aku tergoda juga ajakan Salman untuk pulang menempuh hujan. Kenyataannya, kami tidak sampai rumah, tapi bergabung dengan teman-teman lainnya bermain bola.
Untuk pertama kalinya aku hujan-hujanan dan untuk pertama kalinya juga aku melanggar kata-kata ibu.
September ~ 2001 Sore itu hujan turun lagi, kami baru saja pulang sekolah. Kebetulan sudah kelas enam, jadi ada tambahan waktu belajar untuk persiapan EBTANAS. Padahal sudah terlanjur jalan, jadi kami berteduh disebuah fotocopi.
Tidak terlalu jauh dari sekolah kami. Letaknya persis didepan sekolah kristen. Seperti biasa, yang kami obrolkan adalah film pokemon. Atau komik terbaru detektif Conan. Semuanya akan biasa saja kalau ia tidak datang dan ikut berteduh. Ia yang tak pernah kutahu namanya tapi selalu menghadiri mimpi-mimpiku hingga kini. Anak gadis yang sudah terlihat dewasa untuk ukuran anak SD. Rambutnya keriting, kulit putih dan ada tanda salip di kalungnya. Pasti ia siswa SD tetangga sekolah kami. Aku tahu untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, dan aku yakin ini bukan cinta monyet.
Hari-hari berikutnya aku sengaja datang pagi-pagi ke sekolah. Sengaja berlama-lama berjalan di depan sekolahnyaberharap bertemu lagi. Tapi anehnya aku tak pernah melihatnya lagi. Hingga pada suatu hari hujan datang lagi, dan aku lega sekali. Hujan dan aku memang telah menjalin sekutu.
Aku bersikeras mengajak teman-temanku untuk berteduh di tempat fotocopi. Meski sejak keluar kelas hujan sudah turun. Berharap keneruntungan kali ini datang, dan aku kembali bisa bertemu gadis tak bernama. Hujan satu jam terasa sangat lama, berkali-kali aku melongokkan kepala keluar. Hanya memastikan dan nihil. Sampai abang yang menjaga fotokopi tahu siapa yang kutunggu karena teman-teman selalu meledek. Dari cerita abang penjaga fotokopi aku tahu ternyata gadis itu yang bernama Rini, dan ia sudah pindah ke Kota lain seminggu yang lalu. Untuk pertama kalinya aku mengenal patah hati, sudah kubilang ini bukan cinta monyet.
Juni ~ 2002 Jenazah ibu dikuburkan tadi pagi. Aku tahu ia tak akan pernah kembali lagi. Sementara itu hujan turun diluar deras sekali. Besok hasil EBTANAS keluar, aku akan jadi siswa SMP. Tapi ibu sudah tak ada, penyakit liver beliau yang terlambat terdeteksi akhirnya membawanya pergi dariku untuk selamanya. Hingga aku menangis, tersedu-sedu sendiri seperti anak kecil. Hari itu, hari kamis. Hujan turun lebat sekali. Untuk pertama kalinya aku merasa sanagt kehilangan.
Januari ~ 2011 Semalam hujan turun lagi, tetap lebat. Semerbak bau tanah dicumbu hujan tercium kekakmarku, harum dan sangat kusuka. Lalu tik-tok tetesannya mengenai genteng tiba-tiba menjelma lagu. Sebuah lagu rindu, rindu untuk masa lalu yang tetap mendarah hingga kini. Seperti yang sudah-sudah aku akan membuka jendela lebar-lebar. Menatapa butiran-butiran itu menari-nari dan akhirnya jatuh melebur dibum. Sayang, malam ini gelap sekali dan ia tak terlihat jelas. Dalam semsta hujan telah kupelajari cinta, cemburu dan kehilangan. Dalam semesta hujan kubiarkan angin menerbangkan mimpi-mimpiku. Menggumpalkannya menjadi awan. Hingga menurunkannya sebagai hujan. Menyirami orang-orang yang kukasihi: almarhum ibu, ayah, nenek, gadis tak bernama dan semua teman-temanku. lalu kupaksa ia berbisik. Ini rinduku... untukmu selalu.

Beri Aku Semalam

Beri aku semalam saja untuk menikmati tidurku, tanpa memikirkan pa yang akan terjadi esok hari. Semalam saja, aku ingin menikmati dunia-dunia manisku, menikmati mimpi yang tak pernah selesai. Hanya semalam, dan aku tak peduli sederas apa langit menagisi bumi, meski aku mencintai keduanya. Semalam ini aku ingin hilang hilang dari ingatan semua orang. Kalau perlu dari pandangan semua orang. Ingin kunikmati sendirri. Menyusuri pelosok kota, sudut ke sudut. Tanpa klakson mobil, tanpa ada orang yang melihatku. Lalu aku tenggelam dalam tidur panjang, semalam itu. Malam ketika aku hilang dari ingatan semua orang, hanya di kamarku kunikmati melodi-melodi manis, sampai ia mengantarku bertemu bidadari. Semalam saja, ingin kunikmati tidur terlelapku. Lalu esoknya, semua kembali normal. Aku jadi diriku lagi, dengan segala permasalahan. Hanya saja, beri aku semalam untuk kunikmati sendiri.

Maaf, Karena Cintaku Tidak Sederhana

“Maaf, karena aku tak bisa mencintaimu dengan sederhana,” hanya itu yang akhirnya dapat kukatakan padamu. Dan seperti biasa kau pun menyingkir jauh-jauh dariku. Tapi kali ini tak akan kubiarkan.
“Lepaskan Ryan!” “Tidak sebelum kaudengarkan ucapanku,” aku pererat cengkeramankau di lenganmu.
“Kamu gila Ryan, aku tidak mencintaimu,” matamu mulai memerah menahan tangis. Tapi kali ini aku harus tega.
“Ya, tapi aku mencintaimu!!”
“Bukan berarti kau bolek memaksaku mencintaimu, aku mencintai orang lain ryan,” suaramu mulai serak.
“Aku tak pernah memaksamu mencintaimu Mel, aku hanya memintamu untuk membiarkan aku mencintaimu”
“Tidak akan kuizinkan kalau itu terus memata-mataiku,” dan akhirnya tangismu pun pecah.
“Aku tidak memata-mataimu. Aku hanya berusaha melindungimu dari laki-laki brengsek itu”
“Aku bisa menjaga diriku sendiri”
“Dengar Melisa, terserah kau akan menerima cintaku atau tidak. Tapi sebelum kau menemukan orang yang benar-benar pantas untukmu aku akan terus mencintaimu. Dan seperti inilah caraku mencintaimu” Kulepaskan sepenuhnya cengkeramanku, kau menjauh tapi tidak pergi. Matamu menatap tajam mataku. Kita beradu pandang.
“Maaf, kalau kau tidak menyukai caraku mencintaimu. Aku tak ingin mencintaimu dengan sederhana, karena cinta yang kutawarkan untukmu eksklusif. Hanya dariku kau bisa mendapatkan cinta seperti ini. Aku akan terus mengejarmu sampai kau menerimaku, atau sampai ada laki-laki yang kurasa pantas untukmu” Begitu saja, lalu kubiarkan kau merenung sendirian. Aku berlalu memamerkan senyum termanisku. Senyum yang kata gadis-gadis lain begitu mempesona. Hanya kau yang menganggapnya senyum iblis. NB: tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba ff: cinta dalam kata

Perahu Warna Warni

Kurasakan ada sesuatu menyentuh tumitku. Sebuah perahu kertas, mungkin terbawa ombak. Kupandangi ia oleng dan terombang-ambing , lalu menepi sebentar bersama buih-buih didekat kakiku. Blerrr, ombak berikutnya datang membawa perahu-perahu kertas lainnya. Biru, hijau, kuning, kini dibawah berjubel tujuh buah perahu kertas beraneka warna. Aku merunduk, menimbang sebuah perahu kertas yang tidak terlalu kuyup. Kubiarkan air asin membasahi belakang kemejaku. Menghirup aroma laut yang masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Perahu-perahu kertas ini, mungkinkah Aini? ***
“Ayo Aini, segera lepaskan perahu-perahu kertas ini”, aku melepaskan perahu kertas berwarna jingga kebibir pantai. “semoga ayah melihatnya El”, lirihnya pelan padaku. “Pasti Aini. Kan aku pernah bilang, masing-masing perahu membawa pesannya sendiri. Merah untuk rindu, jingga berarti apa kabar?, kuning …” “Artinya kami selalu mendoakan ayah”, Aini memotong kalimatku, lalu kami tertawa . “Nah, besok kalau kamu rindu pada ayahmu lagi. Kita bikin lagi perahu kertasnya sama-sama”, aku memulai berbicara ketika Asih memejamkan matanya dan berdoa untuk ayahnya. Ayah Aini menghilang terbawa badai ketika melaut. Maka aku mengajarinya melepaskan perahu kertas warna warni ini ke laut untuk menyampaikan pesan kerinduan kami pada orang yang kami sayangi. Dulu ibuku yang mengajari sebelum ia berangkat ke negeri Jiran menjadi TKW. Tapi setahun kemudian, aku meninggalkan desa pantai itu. Ibuku menjemputku untuk tinggal bersamanya di Johor. Masih kuingat kata- kata Aini sebelum aku pergi. “Berarti mulai sekarang aku akan membuat perahu-perahu kertas ini sendiri. Dua set, semoga yang satunya sampai padamu” *** Sekarang, setelah sepuluh tahun kami pulang kembali ke desa pantai ini, karena nenekku sudah terlalu tua dan aku juga sudah menyelesaikan gelar dokterku. Ibu berharap aku mengabdikan ilmuku dikampung kami. Mungkinkah Aini yang melepaskan perahu-perahu kertas itu? Tanpa sengaja aku meoleh kesamping, disana persis dekat karang-karang besar berdiri seorang gadis seusiaku. Ia melemparkan tujuh buah perahu kertas lagi ke laut. Lalu ia memejamkan matanya, berdoa. “Aini!!”, Ia menatapku heran, lalu tiba-tiba matanya berbinar. Aku yakin ia masih mengenali bekas luka di dahiku, Elfarizy -teman masa kecilnya-. 2011

Menemani Ibu Pergi Maraton

"Bu, kalau perut ibu besar begitu berat tidak?", tanyaku polos melihat ibu memegang pinggangnya setelah menjemur pakaian. Umurku enam tahun saat itu, dan syukurnya meskipun nakal aku tidak keberatan membantu ibuku. Saat itupun aku sedang membantu beliau. "Tentu saja nak, oh ya...kemarin kamu pernah membantu ibu membawa tiga butir kelapa kan? Beban perut ibu ini sama dengan menjenjeng sembilan butir kelapa. Bisa kamu bayangkan, makanya ibu sering memintamu memijit pinggang ibu", Dan seperti yang sudah-sudah, ibu akan menasehatiku macam-macam dan menyelingi dengan cerita-cerita. Aku selalu suka mendengarkan cerita ibu. Kami tinggal di desa, aku satu-satunya anak ibu waktu itu. Sebenarnya, aku punya dua orang kakak. Tapi mereka meninggal ketika masih bayi. Aku sudah sering melihat orang hamil dengan perut yang membesar, namun baru kali ini aku menyaksikan ibuku sendiri. Tak ada lelah di wajahnya. Selama hamil, ibu sering minum yang aneh-aneh. Apalagi setelah perutnya membesar seperti sekarang. Aku sering diminta ibu memetik daun kapuk di pagar rumah, katanya itu untuk melancarkan ASI kelak. Selain itu nenekku juga menyiapkan ramuan yang aku tidak tahu dibuat dari apa. Namun, kata beliau itu untuk melancarkan persalinan nanti. Ibu tidak meminum susu seperti yang kulihat iklannya di TV tetanggaku. Ayahku hanya seorang buruh penyadap karet saat itu, tentu susu itu sangat mewah untuk ukuran ekonomi kami. Tapi sebagai gantinya, ibu banyak mengkonsumsi jamu-jamu alami yang ia buat sendiri. Biasanya bahan-bahannya ada disekeliling rumah kami. Saat perut ibu makin membesar, ibu mulai rajin pergi maraton (jalan-jalan pagi), biasanya dimulai sejak subuh. Di kampung kami memang biasanya lumrah bila ibu hamil pergi meraton, hal ini dipercaya untuk memperlancar proses persalinan. Karena ayahku pergi bekerja sejak subuh, maka aku yang harus menemani ibu pergi maraton. Awalnya aku tidak senang melakukannya, karena aku harus bangun lebih pagi. Bahkan pernah sampai menangis, karena dibangunkan saat masih mengantuk. Kala itu ibu pergi maraton sendiri, dan aku khawatir sampai ibu pulang ke rumah. Sejak saat itu, aku rajin menemani ibu maraton. Dan akibat hal ini, aku jadi terbiasa bangun pagi sampai sekarang :) Di jalan, kami selalu bertemu dengan uni Des yang juga sedang hamil. Ia maraton ditemani suaminya, karena suaminya seorang pegawai negeri. Jadi tidak terlalu pagi masuk kerjanya. Entah kenapa orang-orang di kampung kami sepertinya memang gampang hamilnya. Jarang sekali ditemukan pasangan yang menikah bertahun-trahun tapi belum dikaruniai anak. Mungkin karena kondisinya masih bagus dan belum tercemar seperti di kota. Atau mungkin juga ada "cara cepat hamil" yang diwariskan turun temurun oleh sesepuh kami. Dan kegiatan menemani ibu pergi maraton ini menjadi kegiatan rutinku selain menemani ibu ke bidan desa (Kalau yang ini kadang-kadang ditemani ayah juga). Aku paling suka maraton di hari minggu, karena di hari ini banyak yang pergi maraton. Tidak hanya ibu hamil, teman-temanku juga ada. Begitulah pengalamanku berhubungan dengan mengurus ibu hamil, dan umurku baru enam tahun saat itu. Karena itu aku berjanji pada diri sendiri untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik kelak, agar punya waktu lebih banyak memperhatikan kehamilan istriku kelak. Atau sebaiknya aku mulai melihat-lihat artikel cara cepat hamil dari sekarang yah ^_^ (pacar saja belum ada, hehe)

Monolog Kerinduan

Pertemuan dan perpisahan hanya masalah perbedaan sudut pandang. Bila melihat dari pangkal, lazimnya disebut perpisahan. Namun bila saja kau coba berdiri diujung, ada sebuah pertemuan. Yah, bukankah hidup selamanya adalah dualistic semu, kubilang semu. Karena sebenarnya mereka kembar, kembar dengan wajah bertolak belakang. Tapi tak ada yang menyangkal ikatan itu kan... Dan dualisme semu itu seringkali menciptakan pihak ketiga yang penuh ambigu. Seperti yang abang katakan tadi dik. Perpisahan dan pertemuan, sudah berkali-kali abang menemui mereka. Pun ketika denganmu, perempuan yang didarahmu mengalir juga darah yang sama dengan yang ada di tubuhku. Abang telah merasakan kebasnya dik, karena seperti minum obat. Dualisme itu menghampiri secara rutin. Ada yang kesannya biasa-biasa saja, ada yang menoreh. Seperti halnya dualisme itu tersenyum padaku dengan menjadikanmu sebagai tokoh didalamnya.
Tahu tidak dik, abang pikir akan baik-baik saja. Karena seperti sudah abang sering katakan. Abang sudah sangat berpengalaman. Mula-mula ibu kita meninggal dik. Abang menangis, tapi kau malah bengong saat itu. Ingin sekali aku memarahimu saat itu, karena tak ada air mata di pipimu. Kalau saja, aku tidak menyadari kau masih sangat kecil saat itu. Mungkin kau tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi. Maka tangisku saat itu menjadi dua kali lipat, satunya untukmu. Yah, betapa minim kasih ibu yang kau dapatkan dik. Tidak sepertiku, kau jarang bepergian dengan ibu. Karena hanya saat usiamu baru beberapa tahun, ibu sudah sakit-sakitan. Yang kedua adalah nenek kita dik, lagi-lagi perpisahan itu menampakkan wajahnya dalam bentuk kematian. Tapi sungguh aku tak pernah berpikir bahwa kali ini perpisahan itu juga membawamu. Yah, keadaan membawamu harus ikut bersama salah seorang bibi kita. Dan aku tetap tinggal. Saat itu kulihat kau menangis, tapi kai ini aku tidak menangis. Lebih tepatnya tidak menangis di depanmu. Saat itu aku menangis untuk tiga hal, kepergian nenek, kepergianmu, juga minimnya kenangan manis yang kita buat. Saat itu aku selalu kesal pada nenek yang terlalu memanjakanmu, hingga kau begitu nakal dik. Nenek berdalih, kau sudah tidak mendapatkan kasih ibu, jadi kau harus mendapat lebih. Yah kalau saja, abang sudah belajar psikologi saat itu. Pasti abang mengerti, tapi yang ada kamu malah sering dimarahi. Sedikit menghibur diri, kukatakan pada diri sendiri. Kita masih akan sering bertemu, setidaknya setiap lebaran. Namun, tiap kali kita bertemu kau sudah bertambah dewasa dik. Aku mulai bingung bagaimana bersikap padamu. Yah, diluar dugaan kau tumbuh jadi pribadi yang ceria. Sekarang abang masih jadi seorang pecundang dik, tapi percayalah. Sebentar lagi akan kita bangun lagi rumah matahari terbit kita yang baru. Dimana jendelanya lebar-lebar dan mempersilahkan mentari masuk leluasa. Oh iya dik, kembali ke dualisme itu. Ada satu yang belum kuceritakan padamu. Khusus untuk kembar pertemuan dan perpisahan ternyata mereka menciptakan sebuah sensasi manis. Kau tahu apa itu dik, rindu... ya rindu. Adakalanya rindu itu menjadi satu-satunya motivasi abang untuk tetap optimis dan bersemangat. Camkan ini dik, "Pertemuan dan perpisahan hanya masalah perbedaan sudut pandang, dan kerinduan adalah benang merah yang menghubungkan keduanya" ~ Jangan bersedih.

Aku dan Sepatuku: Satu Potret Kemandirian

Saat itu aku baru saja duduk di kelas empat Sekolah Dasar. Sudah jadi tradisi kalau setiap kenaikan kelas aku selalu dibelikan sepatu baru. Bukan karena orang tuaku punya banyak uang, tetapi karena memang sepatu-sepatu itu hanya bertahan setahun. Itupun kadang-kadang telah bolong sana-sini dan alasnya manggalokak[1]. Wajar saja, karena ibuku hanya membelikan sepatu yang harganya lebnih mahal sedikit dari sendal jepit. Di minggu pertama aku menduduki kelas iv, aku dipilih guru untuk mewakili sekolah mengikuti lomba hafalan surat pendek di mesjid Raya Kapbupaten. Tahun itu, MTQ tingkat propinsi diadakan di kabupatenku, jadi ada acara-acara khusus juga untuk anak sekolah. Bersama teman-temanku yang ikut lomba adzan dan murotal, kami ke kota kabupaten menaiki mobil ciber[2] yang dirental ibu kepala sekolah. Tapi justru di mesjid itu malapetaka itu menimpaku, sepatuku baruku yang baru berusia seminggu hilang sebelah. Sampai pulang kembali ke desa, sepatuku tetap tak ditemukan. Aku yakin itu adalah keisengan dari anak-anak saja. Karena tidak mungkin ada yang mau mencuri sepatu murahanku, sebelahku pula. Di mobil aku menangis keras-keras, karena aku yakin aku tak mungkin mendapatkan sepatu baru dalam beberapa bulanm ini. Saat itu aku berharap sekali menjadi juara lomba itu supaya uangnya dapat dibelikan sepatu. Namun Allah punya rencana lain, aku tidak memenbangkan lomba itu. Karena banyak peserta lain yang hafalannya lebih baik dariku. Aku hanya menyabet predikat juara harapan, hadiahnya sarung kecil dan buku do’a. Akan tetapi tetap bisa membeli sepatu baru seminggu kemudian, dengan uang hasil kerjaku sendiri. Pas sekali padi-padi sudah hampir menguning. Itu artinya tiap pagi dan sore harus dijaga dari serangan burung-burung pipit yang menyukainya. Karena ayah telat menggarap, jadi sawah kami baru berbunga. Berbeda dengan sawah paman yang sudah berisi. Anak-anak paman sekolah di kabupaten, jadi tak bisa membantunya. Sedangkan setiap sore paman harus mengurus kerbaunya. Maka paman memintaku membantu menjaga sawahnya selama setiap sore. Aku melakukannya dengan senang hati karena saat pulang paman sering memberiku kue. Seminggu kemudian, padi paman dipanen. Paman memberiku uang Rp. 10.000,- sebagai upah mernjaga sawahnya setiap sore. Saat itu aku langsung memikirkan celenganku yang terbuat dari kaleng susu bendera. Kalau celengan itu kubongkar dan ditambah dengan uang dari paman pasti cukup untuk membeli sepatu baru. Setelah menghitung pecahan 50-an itu, ternyata jumlahnya Rp.4.850,- masih kutrang 150. Tapi saat itu hari minggu, jadi aku bisa mengumpulkan uang 150 sampai hari kamis (hari pasar). Sesuai rtencana, hari kamis uangku terkumpul dan aku ikut ibu pergi ke pasar. Saat itu ibu ingin membelikanku sepatu yang lebih mahal biar tahan. Sebab ibu baru saja menjual setandan pisang dan cukup banyak uang berlebih. Namun aku bersikeras untuk tetap mebeli yang harganya Rp. 15.000,- saja, sesuai dengan jumlah uang milikku. Esoknya aku pergi ke sekolah dengan bangga. Aku memakai sepatu baru yang kubeli dengan uangku sendiri, hasil bekerja. Walaupun modelnya masih sama dengan sepatu-sepatuku sebelumnya. Tapi dari situlah aku belajar mandiri. Sejak saat itu, aku sering melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil. Ketika ada acara keramaian aku dan adikku berjualan keripik singkong yang dibuat ibu. Pernah juga aku dimarahi guru ngaji karena menyambi berjualan mercon di surau saat mengaji. :D *** *Tulisan ini diposting untuk Lomba Menulis Kisah Inspirasi Sepatu Dahlan*
Nama : Gea Harovansi Tempat/tanggal lahir : Sijunjung/ 2 Agustus 1990 Alamat : jorong kapeh panji no 40A, kenagarian Taluak IV suku, Kecamatan Banuhampu, kabupaten Agam, sumatra barat, 26181 No. HP : 081993747855 Email : gea.harovansi@gmail.com Blog : http://bugot.wordpress.com/ Twitter : @harovansi Facebook : Gea Hartovansi (bugot) [1] Bahasa minang, kondisi sepatu dimana telepaknya lepas sebagian atau seluruhnya [2] Mobil kijang pick up yang diberi tenda dan tempat duduk di kiri kanan, umum jadi kendaraan umum pengganti angkot. Disebut ciber, singkatan dari cigak beruk (cigak=kera, beruk=monyet), karena penumpang bisa bergelantungan dipintunya yang lebar seperti ciber :D

Bening Tiga Hati

Cerpen ini terinspirasi dari drama seri malaisya "Nur kasih"
Sarah "Malam ini mas Adam tidur di kamar mbak Nuraini saja, beliau kan istri pertama",dengan senyum yang sedikit dipaksakan aku berhasil mengucapkan hal itu. Suamiku memandangku dengan pandangan yang tak terdeskripsikan. Wajahnya yang menghijau bekas cukuran terbentuk gagah oleh sepasang rahangnya yang kokoh. Sungguh laki-laki ini telah membawa banyak perubahan dalam hidupku. Kami bertemu beberapa tahun lalu di Sidney. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya, seorang pria ambisius bermasa depan cerah. Aku masih kuliah di Queensland University saat itu.Dan anugrah bagiku dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi tentu saja jalan cinta kami tidak mulus, dia muslim. Ayahku bahkan mengusirku dari rumah, kuliahku terputus. Namun demi cinta aku rela hidup dalam keprihatinan. Ya kami menikah, seperti dalam novel-novel romance. Mengenai keluarga Adam aku tak pernah tahu dan ia tak pernah ingin menceritakannya. Di samping apartemen yang kami tinggali, ada sekelompok wanita dari Malaysia. Pakaiannya sangat tertutup. Karena berdekatan kami akhirnya berteman. Dari mereka aku tahu sedikit banyak tentang islam. Aku benar-benar tertarik pada agama itu. Bahkan aku memuaskan rasa ingin tahuku dari buku-buku dan sumber internet. Tanda tanya terbesar di benakku adalah mengapa suamiku sangat berbeda dengan karakteristik laki-laki muslim yang kubaca. Ketika aku mengajak Adam berdiskusi tentang hal ini, ia marah-marah. Dia bilang aku tak perlu mengurusi shalat, minuman keras atau apapun. Yang harus kuketahui adalah dia mencintaiku. Itu saja. Seperti biasa aku mengalah, tak pernah bertanya lagi padanya. Namun diam-diam aku mengaji lebih jauh pada Asyah, tetanggaku. Dan diam-diam aku mengerjakan shalat. Rumah tangga kami ternyata tak seindah negeri dongeng. Adam mulai sering marah-marah. Terlebih lagi setelah menerima telepon dari Bandung. Dan sedikit-sedikit rahasia memilukan itu sampai padaku. Ternyata Adam sudah menikah, ia dijodohkan dengan putri sahabat ayahnya. Adam yang pemberontak tidak menerima hal itu, setelah ayahnya meninggal ia pergi meninggalkan Indonesia untuk menggapai mimpinya di Sidney. Meskipun berkali-kali ia mengatakan hanya mencintaiku, hatiku tetap sakit. Memang poligami diizinkan dalam islam, namun aku tak pernah mengira aku yang muallaf akan mengalaminya. Terlebih aku merasa sangat bersalah pada istri pertama Adam. Semua ini benar-benar diluar kemampuanku. Hanya beberapa hari setelah kepindahan kami ke Jakarta, aku kehilangan akal sehat. Yang kuingat entah telah berapa lama, laki-laki berbaju putih itu mengatakan aku sudah sembuh. Aku keluar dari penjara itu dan kuputuskan umtuk memakai pakaian hijab. Saat itupun tiba, dimana aku harus bertemu Nuraini, perempuan berhati cahaya. *** Adam meninggalkan kamarku masih dengan keraguannya. Disebelah kamar ini adalah kamarnya Nuraini, suamiku disana. Kuambil tasbih dan pelan-pelan kulantunkan dzikir mengusir semua kecemburuan Nuraini "Sebaiknya mas Adam menemani Sarah dulu malam ini, kasihan ia masih labil", kusimpulkan senyum pada laki-laki itu. Yang sempat menorehkan luka di hatiku. "Tapi nur,..." "Sudahlah mas, Nur tidak apa-apa", dan laki-laki itu berlalu. Pernikahan kami karena dijodohkan. Aku yang seumur hidup tidak pernah mencicipi pacaran menerima saja perjodohan itu. Bagiku pernikahan bukan tentang dua hati saja, tapi tentang dua keluarga. Apalagi Pakle Hadi adalah teman satu perjuangan abah saat di Mesir dulu. Aku mengira, pastilah anaknya adalah laki-laki soleh. Kalau ia tak mencintaiku, itu masih bisa kuterima. Yang tak pernah kusangka adalah ia meninggalkanku bahkan sebelum malam pertama kami. Saat itu aku berpikir untuk tidak akan memaafkan laki-laki itu seumur hidup. Aku pergi ke Jakarta dan memulai hidupku di sana. Aku menyelesaikan kuliahku di bidang desain. Dengan perjuanganku, aku berhasil bekerja di sebuah Perusahaan property bonafit. Yang tak kuperhitungkan adalah aku kembali bertemu Adam. LAki-laki yang sangat ingin kulupakan. Terlebih kami berada dalam satu departemen. Dengan terpaksa aku harus sering bekerja sama dengannya. Adam yang sekarang ternyata bukan Adam yang dulu. Dia telah banyak berubah. Rajin shalat, lebih ramah dan tidak seambisius dulu. Perlahan-lahan perasaan kewanitaanku memberi peluang kembali padanya untuk masuk ke dalam hidupku. Toh, dengan kata-kata penyesalannya pertahananku goyah juga. Kami akhirnya rujuk. Kupikir ini adalah akhir bahagia bagi kisahku. Namun kemudian aku mengetahui tentang Sarah yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa. Meski Adam berkali-kali mengatakan ia akan meninggalkan Sarah. Pilihan yang sangat tidak adil bagi Sarah, wanita yang jadi cinta pertama suamiku. Saat itu juga aku mengurus perceraianku dengan Adam. Beberapa hari sebelum persidangan kami, sarah menemuiku. Ia memintaku untuk membatalkan gugatanku. Ia bahkna berjanji untuk pergi dari kehidupan kami. Saat itu kami, dua wanita yang terjebak dalam satu jalinan ganjil saling bertangisan tanpa suara. Kulihat lagi Sarah, jilbab besarnya berkibar ditiup angin. Kulihat cahaya ketulusan di matanya. Namun juga kerapuhan. Wanita yang gila karena seorang pria tentulah sangat mencintai laki-laki itu. Dan kalimat itu meluncur saja dari mulutku, "Sarah maukah kau berbagi bersmaku. Aku istri pertamanya, tapi kau adalah cinta pertama suamiku. Kita sama-sama berhak terhadapnya. Mungkin nanti salah satu dari kita akan ada yang terluka. Tapi berjanjilah untuk tetap mempertahankan pernikahan ini" *** Kupandangi dinding kamar bercat hijau muda. Dibalik dinding itu ada suamiku bersama maduku. Astaghfirullahaladzim....kuambil tasbih dan melantunkan dzikir. Berharap kecemburuanku pergi jauh-jauh. Adam Aku meninggalkan kamar Nuraini. Bingung malam ini harus tidur dimana.Aku tak tahu harus mengetuk lagi pintu siapa. Saat dijodohkan dengan Nuraini aku benar-benar marah. Aku merasa hidupku dikekang. Kujalankan pernikahanku hanya demi wasiat terakhir ayahku. Namun surat itu datang, surat beasiswa MAsterku ke Sidney. Tanpa pikir panjang aku pergi, bahkan tanpa pamit pada Nuraini. Di Sidney, aku bertemu Sarah. Tipikal wanita modern yang sangat menarik. Meski tanpa restu kami menikah. Sampai akhirnya Aidil, kakakku berhasil menemukan nomor kontakku di Australia. Dan setiap hari ia menelponku, kadang-kadang ibu. Aku benar-benar stress, apalagi Sarah mulai sibuk dengan urusan tidak penting seperti haram-halal. Maka ketika ada panggilan untuk bekerja di perusahaan di Jakarta, aku menerimanya. Sarah ternyata lebih tertekan dibanding aku. Dia akhirnya harus mendapat perawatan mental. Aku mengurus perawatannya di sebuah pusat rehabilitasi mewah. Berkat bantuan mas Aidil, aku perlahan-lahan mulai menata hidupku. Aku mulai mendekatkan diri pada Tuhan dan menyadari betapa besarnya kesalahanku. Yang tidak pernah kuduga adalah Nuraini ternyata menjadi rekan kerjaku di kantor. Sikap tegarnya malah membuatku semakin merasa kecil. Satu yang kutahu, dia sangat membenciku. Dan itu bisa kuterima. Tiap hari bertemu, aku semakin menyadari pesona Nuraini dan aku jatuh cinta padanya. Berkat perjuangan panjang, akhirnya Nuraini mau rujuk denganku. Hingga kemudian Sarah dinyatakan sembuh. Aku tahu kali ini aku tak punya kesempatan lagi. Aku bahkan sudah siap kalau harus kehilangan keduanya. Di luar dugaan, ternyata mereka berdua menerimaku. Kupikir ini akhir yang bahagia bagiku. Tadinya... Sarah dan Nuraini tidak tinggal serumah, aku berusaha berbuat seadil-adilnya. Meski seringkali aku menyadari aku cenderung lebih memperhatikan Nuraini. Masalahnya lagi, mereka berdua sering mengalah yang membuatku benar-benar bingung. Seperti malam ini, ini malam pertama kami di Bandung. Di rumah orang tuaku. Aneh rasanya saat membawa kedua istriku pulang ke kampung. aku yakin tetanggaku pasti merasa lebih aneh lagi. Maka kuputuskan untuk tidur di sofa saja. Tapi aku tak mampu memicingkan mata. Aku memikirkan masa depan kami. Sampai kapan aku sanggup berlaku adil tanpa melukai salah satu diantara mereka berdua. Dan bagaimana dengan anak-anakku kelak. Apakah ini tidak akan mempengaruhi perkembangan psikologis mereka? "Adam,,,!!", Ibuku tiba-tiba datang. mungkin ia mau ke kamar mandi. "eh, ambu...", "kamu kenapa tidur di sofa?" "Adam takut bersikap tidak adil pada Nur ataupun Sarah ambu" "Tapi dengan begini kamu telah bersikap tidak adil pada mereka berdua" Ibuku benar, seandainya ku memiliki pilihan... sumber gambar : Be a writer Oh! Artis

ODHA, jangan biarkan mereka mati sebelum mati...

Jujur, dulu bagi saya HIV itu adalah penyakit kutukan. Karena keidentikannya dengan prilaku seks menyimpang. So, dont judge me kalau saat itu saya begitu underestimate sama penderita HIV. Saya pikir itu hukuman yang bagi kelancangan mereka. Apalagi kasus HIV ditemukan pertama kali pada seorang homoseksual. (Tolong ya, garis bawahi kata dulu-nya. Tentu saja sekarang saya sudah cukup punya otak untuk berpikir lebih terbuka) Pas sekali di jamannya SMP, lagi booming-boomingnya dorama dari Jepang berjudul "Kamisama, Please Give Me More Time" yang dibintangi Takeshi Kaneshiro. Drama ini menceritakan tentang seorang siswi SMU yang begitu fanatiknya mengidolakan seorang artis. Sampai-sampai ia rela menjual tubuhnya demi membeli tiket untuk menonton konser sang pujaan hati. Gila banget nggak tuh,, so ketika akhirnya tuh cewek terserang HIV, wajar-wajar aja dong. Alur ceritanya menarik sih, (seorang teman wanita saya bahkan sampai menangis karena haru). Di dorama ini digambarkan berbagai tindakan diskriminatif yang dialami si cewek akibat penyakitnya tersebut. Agak tersentuh juga sih, tapi dianya kan tetap salah (ngeyel!!).
Dengan bertambahnya usia, pikiran saya jadi lebih terbuka dan melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang. Apalagi kampanye tentang HIV/AIDS makin gencar dan dukungan terhadap ODHA bertambah banyak. Jujur loh, awalnya saya kaget banget saat tanggal 1 desember ditetapkan sebagai hari AIDS sedunia. Ternyata penyakit ini telah menjadi duka dunia. Ini masalah kita bersama. Dan pelan-pelan juga otak bebal saya berpikir lagi. Banyak sekali penderita HIV itu yang sangat innocence malah, lihat saja bayi-bayi yang terlahir dari ibu ODHA, mereka sama sekali tak berdosa sob. Atau seorang temennya kakak kenalan saya yang menerima virus bangsat itu ketika menerima donor darah. Padahal dia itu orangnya alim banget. Jadi masih berhakkah saya yang keimanannya begitu dangkal ini mengatakan mereka, -bayi-bayi malang itu- sebagai kutukan? Sungguh pemikiran yang kejam kan? Saat itu saya menundukkan kepala saya dalam-dalam, menekuri bumi. Betapa ternyata ODHA jauh lebih baik dari kita. Di tengah diskriminasi, mereka tetap bisa survive. Kita yang tolol sodara-sodara, yah tolol sekali. Karena hanya orang tolol saja yang percaya HIV menular melalui pemakaian alat makan bersama, toilet bahkan pakaian. Pernah waktu itu saya menonton film India tentang ODHA yang sediiiih banget (lupa judulnya). Ceritanya tentang dokter wanita yang baik banget, suka memberi penyuluhan tentang AIDS. Tapi ternyata beliau juga kemudian menderita HIV. Suaminya yang suka main perek, telah menulari penyakit itu ke dia dan bayi yang dikandungnya. Sedih banget liat kehidupan dia pasca vonis itu. Open your eyes guys, kalian gak mau kan jadi pembunuh? Tahu tidak, kebanyakan ODHA meninggal bahkan sebelum Virus AIDS itu mengganas di tubuhnya. Apa sebabnya, karena mereka depresi dengan tekanan dan celaan miring dari orang-orang disekitarnya. Kadang-kadang kita juga jadi bagian dari orang itu. Ayo support mereka man teman, jangan biarkan mereka mati sebelum mati. Sumber gambar : Mr. Smith's J-Dorama Blog, Radio Mogadisho "Postingan ini diikutsertakan dalam Kuis Keira The Novel"

Eartquake Birthday (a flash fiction)

Kalau takdir itu seindah cerita-cerita di sinetron, aku mau jadi putri yang ditukar saja. Ayah dan ibuku benar-benar bukan tipe orang tua yang kalian harapkan. Uang jajanku dijatah ketat, belum lagi jam malam yang keterlaluan banget. Kalau lewat dari jam sembilan aku masih belum datang, bisa dipastikan ayah sudah menunggu di sofa dengan kerut sebelas di keningnya dan bisa dipastikan aku harus mendengar ceramahnya yang sudah sangat kuhapal. Hari ini ulang tahunku, aku sudah janjian dengan teman-temanku untuk hangout bareng ke kota sebelah. Bukan aku yang bayarin sebenarnya, tapi makan siang aku yang traktir. Untuk dapatin ijin ini, aku terpaksa jual nama Amanda, tetanggaku yang culun, tapi sangat dipercaya ayah. Satu lagi, orang tuaku tidak pernah mengizinkan pesta ulang tahun. Seringkali mereka memberiku kado yang norak dan ketinggalan jaman. *** "Ayo tiup lilinnya!", "Eits, make a wish dulu dong", teman-temanku pada sibuk bertepuk tangan. Sebelum tiba-tiba sebuah getaran hebat membuat meja bergoyang dan lilinnya mati. "Gempa!!!", kami semua berlari keluar. Beberapa menit kemudian suasana kembali normal, kami melanjutkan makan di restoran itu. Dan dilanjutkan dengan nonton premier Harry Potter 3D, hari yang sangat membahagiakan. Ibuku yang biasanya bawel pun belum menelepon lagi sejak tadi pagi. Tapi entah kenapa perasaanku jadi tidak, berasa kayak ada something wrong gitu. Saat mau pulang, di toko elektronik kami melihat headline news yang menayangkan daerah terkena gempa. Dan betapa syoknya kami melihat bangunan-bangunan yang hancur itu, bangunan yang sangat kami kenal karena gedung-gedung itu ada di kota kami yang ternyata jadi pusat gempa. Kami semua menjerit dan bertangisan. Ryan, temanku yang punya mobil melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. "Gak bisa dihubungi Rin...", Lidya mulai menangis. "Mama....", Amanda pun tak bisa menahan tangisnya. Teman-teamn cowok terpekur diam, sementara aku masih berusaha menahan air mataku. Menatap gantungan hp "norak" hadiah ulang tahun dari ibu tahun kemarin. Katanya itu bisa melindungiku dari bahaya. Dan tiba-tiba tangisku pecah. Amanda memelukku dalam tangis yang sama. Kami masih belum tahu kabar keluarga kami. Perlahan-lahan bayang ayah dan ibu yang malu-maluin berkelebat di benakku. Walaupun mereka keras dan sering berbeda pendapat denganku mereka sangat menyayangiku. Kebutuhan sekolahku selalu dipenuhi, dan "untuk beli buku" adalah senjata ampuh bagiku untuk minta jajan tambahan. *** "Ayah...ibu...", aku menghambur ke pelukan ayah begitu menangkap sosoknya di tenda darurat. "syukurlah kamu tidak apa-apa nak,", ibu ikut memelukku dalam haru. Ayah melepaskan pelukannya dan mengambil sesuatu di tas. "Ini, ternyata ayah tak berhasil menyelamatkannya. Tadinya benda ini hadiah ulang tahun buatmu tapi sekarang sudah rusak", ayah menyodorkan tablet yang sudah retak itu padaku. Seminggu ini aku nyinyir sekali minta dibelikan tablet, alasannya buat unduh ebook pelajaran. "tapi nanti kalau kondisinya membaik dan toko kita sudah buka lagi akan kami belikan yang baru", ibu menimpali sambil terus membelai rambutku. Dan aku meraung sejadi-jadinya. "Karin gak perlu itu bu, Krin hanya ingin terus bersama-sama dengan ibu dan ayah. Karin janji akan nurut sama ibu dan ayah" Hari itu tepat di ulang tahunku yang ke-16, kota kami lumpuh. Tapi syukurlah orang-orang yang kukenal semuanya selamat. Walau pemulihannya mungkin lama, tapi aku sudah menemukan kado ulang tahunku yang terindah. Kado yang sebenarnya aa sejak lama, tapi aku mengabaikannya, yaitu cinta orang tuaku. ff ini terinspirasi dario komik "tomorrow"