Minggu, 30 Januari 2011

Reinkarnasi

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Sinta Yudisia
Beberapa waktu lalu, saya membaca novel di perpustakaan. Novel karangan Sinta Yudisia itu bertajuk "kekuatan ketujuh". Ceritanya mengenai seorang pemuda yang diwarisi kekuatan ketujuh. Kehidupannya yang biasa sebagai pemulung mendadak berubah ketika berbagai kejadian membawanya pada Sentot, orang yang tahu banyak mengenai "kelebihan" yang justru ia tidak tahu. Dari Sentot, ia berhasil memakai kekuatan itu untuk mendatangkan keuntungan dan menjanjikan kehidupan yang lebih layak untuk ibu dan adiknya. Namun hal itu justru membawanya pada suatu kenyataan mengenai leluhur dan masa lalunya yang penuh magis dan berkaitan pada kekuatan supranatural. Pada akhirnya Age harus memilih memanfaatkan kekuatannya itu atau kembali hidup seperti biasa.
Ending dari novel itu masih mengundang tanda tanya bagi saya. Meskipun saat itu Age telah menentukan pilihannya. Tapi akhir dari tokoh-tokoh lainnya masih mengundang tanda tanya.
Sampai akhirnya saya membaca resensi mengenai novel Reinkarnasi, karya Sinta Yudisia juga. Di sinopsisnya sekilas tercantum nama Ragil Mulyo (Age, tokoh utama dalam novel kekuatan ketujuh). Saya langsung tertarik membacanya. Dan memang ini pengembangan novel Kekuatan Ketujuh tersebut, di bab-bab awal saya sepertinya hanya mengulang membaca novel Kekuatan ketujuh, namun belum sampai setengah isi buku. Saya menemukan ending novel kekeuatan ketujuh pada salah satu bab. Selanjutnya bab berikutnya menyambung kejadian itu. Novel ini mengupas kekuatan ketujuh Age lebih dalam, juga asal usul kekuatan itu yang membawa pada legenda raja-raja mataram kuno. Tokoh-tokoh lainnya juga diceritakan dengan porsi yang lebih banyak. Juga pembahasan mengenai Galuh Anom, ibu kandung Age yang bertanggung jawab terhadap keanehan yang dimiliki Age. Pada akhirnya novel ini mampu mengantarkan jalinan kisah mengenai mitologi tanah kejawen diramu dengan kekinian. Mengharukan dan sekaligus mendebarkan.

Jumat, 14 Januari 2011

Satu Babak Drama Dalam Angkutan Kota

Percakapan ini terjadi tadi sore di dalam angkutan kota. Saat itu, ada dua orang nenek-nenek yang berpakaian rapi dengan baju kurung mencolok (sepertinya pulang kondangan), seorang ibu dengan barang belanjaannya, seorang siswi SMA yang diam saja, seorang bapak-bapak yang membawa barang dagangannya, mbak penjual jamu, sopirnya, bapak2 yang duduk di samping sopir (tidak jelas deskripsinya) dan tentu saja saya. 
Penjual jamu gendong baru saja masuk ke angkot,,
Sopir               : "Habis dagangannya mbak?"
Mbak Jamu     : "Alhamdulillah mas..."
Sopir              : "Jadi dong beli avanza?"
Mbak Jamu     : "Lah, saya mah bukan cari kekayaan mas. Buat makan aja susah"
Sopir              : " Hidup susah gini, cari mertua yang punya sawah luas aja mbak"
ibu plg belanja : "Iya ya mbak, sekarang semuanya serba mahal, belum beras, cabe, minyak tanah lagi"
Nenek kondangan 1: "Iya minyak tanah di tempat saya sekarang 6000 satu liter"
Mbak Jamu     : " Wah, kalau dipangkalan di jambu air cuma 4500 nek"
Saya              ; "Di tempat saya juga segitu nek"
Bapak pedagang  :" di pasar bawah cuma 3600"
Mbak Jamu     : " Iya, tapi ngantrinya lama. Pling-paling cuma dapet lima liter pula"
Ibu plg belanja : " Oh, kalau gitu gak apa-apa deh mahal dikit"
Nenek kondangan 2: "koq ngerasa kayak di jaman jepang lagi ya?"
Nenek kondangan 1: "iya ni, dulu pas jaman jepang buat beli garam aja mesti antri, bahkan lemangpun tidak boleh pakai garam"
Saya              :"kenapa begitu nek??"
Nenek kondangan 1: "Iya, bukan cuma itu kita juga dilarang masak nasi. Cuma boleh antri beli makanan hambar di samping mesjid"
Nenek kondangan 2: "yang coba-coba masak ditangkap petugas. Lah koq sekarang antri lagi kayak zaman jepang"
Ibu plg belanja : "Yah, mau gimana lagi nek. Tadi saya beli cabe 49000 sekilo. Kapan yah turunnya?"
Mbak jamu      :"kalau cabe mah tidak terlalu masalah, tapi ini beras ikut-ikutan naik. Pusing sekali"
Bapak Pedagang :"mmmh, 10000 sekilo!!!"
Nenek kondangan 1 :"yah, nenek sudah 80 tahun, sudah berkali2 liat ganti presiden. Pas jamannya Suharto enak. Semua barang murah"
Saya             :"tapi dia kan katanya korupsi nek"
Nenek kondangan 1 :"yah, bagaimanapun orang2 menuduhnya sekarang nenek tetap merasa paling enak pas pak harto yang jadi presiden"
Nenek kondangan 2 :"iya ni, kalo sekarng koq uang seratus ribu seperti tidak ada harganya saja. Cuma buat beli beras, cabe, ikan asin, garam abis uang itu"
Sopir             :"Besok pilih saya saja jadi presiden buk!!!"

Minggu, 09 Januari 2011

Nagari Hijau

   

Dengan diberlakukannya otonomi daerah, maka tiap-tiap daerah mulai dari tingkat satu diberikankemandirian dan kebebasan untuk kembali lagi memakai konsep-konsep adapt leluhur mereka. Tentu saja dengan penmyesuaian terhadap situasi dan kondisi jaman sekarang. Berkat program ini, maka di provinsi Sumatra Barat diberlakukan program kembali ka nagari. Dalam konsep kekeinian, maka nagari adalah wilayah pemerintahan yang ada dibawah kecamatan. Dimana nagari memiliki pemerintahan yang berada dibawah cakupan PEMDA namun dengan berpedoman pada adat Minangkabau juga. Dan dibawah nagari ada lagi wilayah pemerintahan yang disebut jorong.

Sebagai orang yang lahir dan besar di salah satu nagari di Sumatra Barat (Sijunjung), saya sedikit banyaknya tahu mengenai daerah saya. Dulunya Sijunjung terkenal sebagai penghasil buah lansek (Lansium Domesticun). Hingga lahirlah slogan Sijunjung Lansek Manih yang terkenal ke berbagai penjuru Indonesia. Hal itu terjadi karena ketika musim panen, buah lansek melimpah karena sama-sama matang di tiap-tiap kebun milik penduduk.  Jadi bisa didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia.

Sampai sekarang, Sijunjung masih dikenal sebagai penghasil lansek walaupun tidak semelimpah dulu. Menurut cerita-cerita dari nenek saya, hal ini sangat dipengaruhi oleh pemerintahan waktu itu (wali nagari). Saat itu ada peraturan bahwa-bahwa tiap-tiap kebun dalam satu rumah gadang wajib memiliki pohon lansek. Dan juga ada denda bagi orang-orang yang memetik buah lansek sebelum matang. Jadi ketika musim berbuah tiba, semua pohon lansek berbuah merata. Sekarang peraturan seperti itu tidak ada lagi, tapi pengaruhnya masih terasa sampai sekarang.

Yang menatik lagi dari nagari saya adalah diberlakukannya lubuk larangan. Program ini adalah dengan melarang mengambil ikan di sungai-sungai nagari sampai saatnya tiba (biasanya enam bulan sekali) sungai dibuka untuk pemancingan. Dimana keuntungannya untuk pembangunan di jorong masing-masing tempat sungai tersebut berada. Biasanya terdapat kerjasama antara beberapa jorong dalam hal ini. Dan pada hari ketiga sungai dibuka, masyarakat dibebaskan untuk memancing tanpa bayaran sebelum besoknya dititip lagi. Bila ada yang memancing diluar waktu itu, akan didenda berupa semen. Apalagi kalau sampai menggunakan racun atau setrum, ini bias dianggap pelanggaran berat.

Dari semua ini, saya bilang bahwa nagari saya mertupakan nagari hijau.

Dari sini saya berkesimpulan bahwa ternyata penyelamatan lingkungan hidup sangat diopengaruhi oleh pemerintah dan kearifan lokal. Mungkin peraturan dari wali nagari dulu itu bisa dipakai lagi sekarang, bukan saja di nagari sijunjung. Tapi di tempat-temapat lain (tentu saja tanamannya tidak harus pohon lansek). Mungkin pemerintah bias menerapkan kewajiban untuk memiliki tanaman di tiap rumah (kalau di perkotaan mungkin bias memakai pot atau teknik hidroponik). Bila ini dilakukan, maka praktis akan sangat mengurangi emisi rumah kaca. Karena bila tiap rumah memiliki pohon, maka akan ada banyak pohon yang menetralisir gas-gas berbahaya yang kita ciptakan tiap hari. Bila ini berhasil, maka kita tidak lagi menciptakan sekedar sebuah nagari hijau, Akan tetapi membawa Indonesia menjadi Negara hijau.