Minggu, 26 Desember 2010

“Poetry Hujan: Qasidah Perindu Hujan”

tanahku merekah pecah
dewi sri urung lahir 
Apalah dayanya jika kau tak datang
pun, kincir2 air kami tak dapat bergerak
karena sungai  mendangkal
menampakkan dasarnya 
dengarlah desah-desah tanah, kekasihmu
yang setia menantimu
ia jadi mandul tanpamu
dari rahimnya tak mampu lagi tumbuh buah-buah ranum
hujan, dengarlah qasidah kami



uisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis

Raindrop, water is adventure

Rating:★★★★
Category:Other
Kondisi bumi kita makin lama makin parah. Aktivitas-aktivitas industri yang tidak terkendali telah menyebabkan kerusakan disana sini. Bukan hanya industri, tapi juga kegiatan rumah tangga sehari-hari. Kesalahan-kesalahan kecil yang ditumpuk menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem, sehingga timbullah banjir dan menipisnya wilayuah hijau. Yang paling mengerikan adalah menipisnya lapizan ozon dan bertambahnya volume air laut.Global Warming, menjadi isu global yang dibahas akhir-akhir ini. Bila tidak segera ditangani, tentu akan menjadi sangat serius.
Syukurnya, ditengah orang-orang mulai sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Berbagai kampanye dan aksi-aksi "go green" pun dilakukan. Bukan cuma orang dewasa, anak-anak pun mulai diajari untuk cinta lingkungan (dengan cara yang mereka pahami tentunya). Seperti yang disuguhkan serial tv ini. Menceritakan tentang isu-isu pencemaran global melalui petualangan raindrop, sitetes air bersama teman-temannya (nimbuzz, awan dan freezy, balok es). Bersama-sama mereka bertualang dari satu tempat ke tempat lain dan melihat banyak hal mengenai kehidupan mereka.
Bersama juga mereka melawan si kuman dan teman-temannya yang terobsesi mencemari bumi. Cara yang cerdas untuk megajarkan cinta lingkungan?

Jumat, 24 Desember 2010

Aneka Pencetus Alergi

Faktor pencetus alergi terbagi tiga, yaitu lingkungan, makanan, dan hal lainnya. Berikut beberapa contohnya:

* Lingkungan.
1. Debu rumah dan tungau. Biasa terdapat pada karpet bulu, boneka bulu, gorden, tumpukan koran/majalah/buku.
2. Kapuk pada kasur, bantal, guling, boneka.
3. Asap, bisa karena asap rokok, asap dari dapur, obat nyamuk, sampah, dan kendaraan bermotor.
4. Rontokan bulu binatang.
5. Renovasi rumah; debu bangunan, semen, hingga bahan kimia lainnya, seperti pada cat.
* Makanan.
1. Makanan/minuman dingin.
2. Permen dengan segala variasinya.
3. Cokelat dan segala olahannya
4. Aneka bahan penyedap rasa buatan.
5. Gorengan.
6. Kacang dengan segala olahannya.

* Hal-hal lain:
1. Infeksi respiratorik akut; flu/batuk-pilek-demam.
2. Kelelahan atau stres baik fisik maupun psikis.
3. Aktivitas fisik berlebihan seperti berlarian, teriak-teriak, menangis, tertawa berlebihan.
4. Perubahan musim atau pancaroba.

CIRI ALERGI
* Ciri khas batuk-pilek alergi: batuk "membandel"/susah sembuh, timbul berulang dalam rentang waktu yang pendek.
* Rentang waktu penyembuhan: lebih dari dua minggu.
* Pengobatan: hindari pencetusnya sebisa mungkin maka anak akan sembuh dengan sendirinya. Bahkan bila berhasil menghindarinya 100% batuk-pilek si kecil tidak akan kambuh lagi.
* Catatan: Bisa saja pada awalnya anak terkena batuk pilek yang disebabkan infeksi (ada virus/bakteri/jasad renik lain yang masuk ke dalam tubuhnya), namun bila dalam 3 hari tidak sembuh maka sumber utamanya adalah alergi.

WASPADAI ASMA
Untuk lebih meyakinkan apakah benar si kecil memiliki bakat alergi, lakukan investigasi sederhana yakni dengan merunut siapa dari kedua keluarga kita yang memiliki riwayat alergi. Ini berarti termasuk melihat riwayat kesehatan paman, bibi, hingga kakek-nenek. "Jika ada, kemungkinan anak kita memang benar mempunyai alergi dan itu berarti berisiko besar sebagai pengidap asma," kata Darmawan.

Ciri-ciri anak pengidap asma adalah: sesak napas/ mengeluarkan bunyi mengi, batuk malam hari yang mengganggu tidur padahal siangnya "normal", kadang batuk disertai muntah (terutama pada anak balita), terjadi batuk pasca beraktivitas yang melelahkan serta gejala bisa membaik tanpa atau dengan obat. Gejala-gejala ini sering disalahartikan sebagai vlek paru karena foto rontgen kerap menunjukkan gambaran vlek pada paru-parunya. Padahal, jelas Darmawan, hasil foto rontgen tidak bisa dipercaya 100%. "TBC pada anak hanya bisa dibuktikan dengan tes Mantoux. Batuk yang sering dan lama pada anak tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Pada orang dewasa, batuk lama bisa jadi TBC. Tapi pada anak-anak, kemungkinan besar adalah alergi alias batuk asma."

Satu-satunya penanganan asma yang efektif adalah dengan mengendalikannya. Jangan lupa, asma merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Kalaupun ada obat hanya sebatas sebagai pereda dan pengendali. Lantaran itu, penderita asma mesti melakukan pola hidup yang benar, Kembali pada makan makanan yang sehat, minum cukup, olahraga teratur, dan hindari pencetus.

Gazali

source : http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Umum/Aneka-Pencetus-Alergi

Rabu, 22 Desember 2010

perlahan-lahan wajah "putra"ku memudar

"Abi...! ayo kita main bola"
Aku tak bisa berkata apa-apa, ketika bocah lugu itu menarik-narik tanganku dan menunjuk ke halaman luar, rumah kami? Aku masih tidak percaya, dia memanggil abi. Bagaimana bisa? Kuperhatikan garis-garis wajahnya, aku melihat diriku disana. Benar-benar mirip. Walaupun bingung aku mengikutinya juga ke halaman belakang, aku sama sekali asing dengan tempat ini tapi entah kenapa aku seperti begitu mengenalnya. Dan pakaian ini, bagaimana mungkin aku bisa berdandan seperti ini. Kemeja mahal dari bahan satin ini, dan dasi ini sejak kapan aku mahir memakainya. 
Apa ini mimpi?? Tapi semuanya terlihat begitu nyata. Beberapa menit berikutnya aku mulai melupakan ini mimpi atau nyata karena sudah terlalu asyik bermain dengan "putra"ku. Mungkin saja memang inilah kehidupanku, mungki aku menderita semacam amnesia yang menyebabkan aku kehilangan memoriku beberapa tahun belakangan. Aku hanya tersenyum meraba-raba cambang di wajahku, cambang ini membuatku lebih dewasa. Tapi, anak ini...astaga!! Aku lupa dimana ibunya? "Istriku"?
"Abi, tadi Ummy bilang makanannya ada di meja. Ummy ada majelis ta'lim di mesjid", Anak ini seperti mengerti jalan pikiranku. Kupandangi lagi ia, ah bocah itu adalah anakku.
Beberapa waktu kami asyik bermain bola di belakang rumah, sampai akhirnya adzan ashar berkumandang. 
"Assholatukhairumminannnau...!!!" loh koq, apa-apaan muadzinnya. Bukankah lafal itu hanya dibaca ketika subuh. Dan tiba-tiba aku kehilangan putraku.
"jagoan...kemana jagoan abi nih?"
***
Kupandamgi lagi kamar dinding kamarku, "bukankah ini kamrku beberapa tahun yang lalu?". Lalu aku meraba-raba pipiku berharap akan merasakan ada rambut disana. Tapi tidak ada, 
damn...mimpi ternyata!!
Dan muadzin di mesjid dekat rumah telah selesai mengumandangkan adzan subuh.
Sejak mimpi itu, aku tak ayal jadi uring-uringan memikirkannya. Aku masih ingat dengan jelas dengan wajah bocah itu, hanya saja, yah itu...aku tidak empat melihat wajah "istriku". AKHirnya aku kembali mengira-ngira siapa ia,mulai kudata perempuan yang pernah dekat atau minimal pernah aku sukai lah, atau mungkin saja aku belum bertemu dengannya sekarang. Yang pasti aku percaya itu adalah salah satu potongan fragmen takdir yang bisa aku pilih. Karena bukankah takdir manusia adalah sebuah pilihan?  Untuk mendapatkannya aku harus memilih dari sekarang, harus bekerja keras dari sekarang.
Sampai akhirnya aku membaca headline ebuah majalah islam Apa yang sudah kaulakukan untuk agamamu?, aku kembali ingat ucapan kakak mentor LDPM di kampusku beberapa waktu lalu.
Kalau impianmua hanya sekedar punya pekerjaan bagus, keluarga dan rumah tangga yang sakinah, betapa memalukannya? Apa yang akan kau lakukan untuk negaramu, bangsamu dan agamu?
Tiba-tiba saja aku menjadi sangat malu....aku mengubah cita-citaku. TIidak lagi sesederhana itu. Dan perlahan-lahan wajah "putra"ku memudar menjadi siluet yang buram dan akhirnya terlupakan. Aku tak lagi menerka-nerka siapa wanita itu, karena memang belum saatnya.

Benarkah Banyak Keringat Pertanda Sakit Jantung?

M ungkin saja, Bu-Pak, karena keluarnya banyak keringat bisa merupakan gejala penyakit kronis. Tapi, tak usah panik dulu. Bila tak disertai gejala lain, bisa saja itu memang sudah bawaannya sejak bayi.

Sering, kan, kita jumpai anak yang kepala atau telapak tangannya selalu berkeringat. Sampai-sampai si anak mengadu pada orang tuanya dengan kesal karena setiap kali menulis atau memegang sesuatu, telapak tangannya berkeringat. Habis dilap, keringat akan mengucur kembali.

Bahkan, ada anak yang tetap berkeringat meski berada di ruangan ber-AC. Akibatnya, orang tua terpancing dan menduga anaknya masih kepanasan, sehingga AC-nya dibuat lebih dingin dengan harapan anaknya enggak berkeringat lagi. Tapi, ternyata anak tetap berkeringat.

Nah, kebanyakan orang tua lantas menjadi cemas, "Jangan-jangan anak saya terkena penyakit jantung." Bukankah salah satu gejala penyakit jantung adalah penderita mengeluarkan banyak keringat?

DISERTAI GEJALA LAIN

Memang, seperti diakui Dr. Najib Advani, Sp.AK, MMed. Paed.,  keluarnya banyak keringat bisa merupakan gejala penyakit kronis, seperti TBC, Malaria, atau gagal jantung. "Tapi jangan dibalik, lo. Bukan banyak keringat yang mengakibatkan penyakit jantung, misalnya," tukas spesialis anak Konsultan Ahli Jantung Anak Bagian Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta ini.

Keluarnya banyak keringat juga bisa ditemukan pada anak yang memang punya kecenderungan untuk alergi (atopi). Selain itu, tumor pada kelenjar adrenalin juga bisa menyebabkan banyaknya keringat yang keluar. "Tapi ini biasanya disertai dengan gelisah dan tekanan darah tinggi," tutur Najib. Anak dengan obesitas juga sering banyak mengeluarkan keringat, "karena lapisan lemaknya tebal, sehingga ia merasa panas terus," lanjutnya.

Penghentian pemakaian obat-obat tertentu, seperti obat penenang, juga bisa membuat anak berkeringat. "Kalau pemberian obat dihentikan, anak jadi gelisah. Akibatnya, keringat bercucuran." Kondisi lain, karena hipoglikemi (kadar gula darah dalam tubuh menurun), kondisi hipertiroid (kelebihan hormon tiroid), kekurangan vitamin B6, atau karena intoksikasi (keracunan) salisilat. "Salisilat adalah salah satu obat penurun panas. Jika dosis yang diberikan berlebih akan membuat anak banyak berkeringat."

Dengan demikian, kita patut curiga bila si kecil mengeluarkan banyak keringat disertai gejala-gejala lain, atau sebelumnya tak pernah berkeringat dan tiba-tiba di usia 2 tahun ia mengeluarkan banyak keringat dibarengi gejala-gejala lain.

Misalnya, anak banyak berkeringat dibarengi sesak napas, mungkin merupakan penyakit jantung. Atau, bayi yang enggak kuat menyusu; saat menyusu sebentar-sebentar berhenti dan berkeringat. "Kita harus curiga dan segera membawanya ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut," tukas Najib.

KONDISI YANG NORMAL

Jadi, Bu-Pak, jangan keburu cemas dulu, apalagi sampai panik bila si kecil mengeluarkan banyak keringat. Kalau memang tak ada gejala lain yang menyertainya, berarti banyaknya keringat yang dikeluarkan merupakan kondisi normal yang sering dijumpai pada anak. Terlebih lagi, kata Najib, pada kebanyakan kasus, banyaknya keringat yang keluar bukan lantaran penyakit atau kelainan tertentu. "Bisa saja memang bawaan anak begitu, sejak bayi memang sudah banyak atau gampang berkeringat."

Ada beberapa kondisi yang bisa membuat anak banyak berkeringat. Diantaranya, emosi. Misalnya, stres. "Ini bisa menyebabkan keringat yang keluar bertambah." terang Najib. Kondisi lain, mungkin pakaian yang dikenakannya terlalu tebal. Apalagi bila gerakan-gerakan fisiknya juga bisa membuat ia gampang berkeringat. "Anak yang sedang demam atau baru sembuh dari demam pun akan mudah berkeringat," tambah Najib.

Disamping itu, suhu lingkungan yang tinggi. Bukankah jika suhu lingkungan tinggi, maka suhu tubuh pun akan terpengaruh? Sehingga, secara mekanisme alamiah, keluarlah keringat. Jadi, normal, kan? Justru dengan keluarnya keringat, suhu tubuh akan turun. Badan pun jadi dingin karena keringat yang keluar akan menguap dan mengambil panas dari kulit.

Oh ya, spicy food atau makanan yang berbumbu, seperti lada atau cabe, juga akan semakin merangsang pengeluaran keringat. Enggak usah pada anak, kita saja yang dewasa jika mengkonsumsi makanan dengan kandungan lada atau cabe juga akan berkeringat lebih banyak dari biasanya. Iya, kan?

KURANGI FAKTOR PENCETUSNYA

Nah, sekarang udah lebih tenang, kan, Bu-Pak? Saran Najib, Ibu-Bapak tak perlu berprasangka yang bukan-bukan selama si kecil pertumbuhannya bagus dan enggak ada gejala-gejala lain yang menyertainya. Apalagi biasanya, semakin besar anak, kondisi ini juga akan semakin menghilang, kok.

Memang ada obat-obatan yang bisa mengurangi pengeluaran keringat untuk sementara waktu. "Tapi, begitu pemakaian obat dihentikan, anak akan kembali berkeringat. Jadi, kita memang enggak anjurkan. Masalahnya, sampai kapan kita harus memberinya obat," tutur Najib.

Yang perlu diperhatikan justru mengurangi faktor-faktor pencetus banyaknya pengeluaran keringat. Misalnya, kalau sudah tahu si anak lebih mudah berkeringat, ya, jangan memakaikan baju tebal-tebal di siang hari bolong. Apalagi saat anaknya sedang beraktivitas di luar rumah. "Sebaiknya gunakan bahan yang menyerap keringat." Kemudian, hindari makanan pencetus, seperti yang mengandung lada dan cabe.

Pada anak obesitas, dianjurkan untuk mengurangi berat badan atau paling tidak pertambahan berat badannya dikurangi. Misalnya, diet; banyak makan sayur dan buah-buahan, hindari makanan yang berlemak dan berkabohidrat tinggi.

Pasti, deh, sekarang Bapak-Ibu sudah enggak khawatir lagi. Iya, kan?

sumber : http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Anak/Benarkah-Banyak-Keringat-Pertanda-Sakit-Jantung

keterlibatan ayah dalam pengasuhan bayi

Ternyata keikut sertaan ayah dalam pengasuhan bayi mempengaruhi kepribadian anak anda nantinya. Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang sering terlibat interaksi dengan ayahnya akan lebih gampang untuk memulai interaksi sosialnya. Sedangkan bayi yang jarang berinteraksi dengan ayahnya, nantinya akan menjadi anak yang pemalu.
Mengasuh anak memang tugas ibu, tetapi ayah juga harus terlibat aktif untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak anda.
Bayi yang sering 'diserahkan' begitu saja pada 'sembarang' orang nantinya akan menjadi individu yang mudah percaya dan polos sekali sehingga gampang dimanipulasi orang lain. Percaya atau tidak bayi dibawah umur satu tahunsudah bisa mengenali orang tuanya, sehingga akan menangis bila digendong orang lain.
Jika bayi tidak sering (kurang) mendapatkan perhatian dari orang tuanya terutama ayah ia akan sulit mengenali orang tuanya, sehingga ia akan lebih dekat dengan orang lain (pengasuh).

Berenang Bikin IQ Tinggi

J adi, Bu-Pak, ajaklah si kecil berenang. Sekalipun masih bayi, tak masalah. Bahkan, bayi baru lahir pun tak akan tenggelam kalau dicemplungin  ke dalam air.

Hasil penelitian di Melbourne, Australia, menunjukkan, secara statistis IQ anak-anak yang diajarkan berenang sejak bayi lebih tinggi ketimbang anak-anak yang tak diajarkan berenang atau diajarkan berenang setelah usia 5 tahun. Anak-anak tersebut diukur IQ-nya ketika mereka berusia 10 tahun. Tak hanya itu, pertumbuhan fisik, emosional dan sosialnya pun lebih baik.

Penelitian lain menunjukkan, bayi lebih gampang diajarkan berenang ketimbang orang dewasa, karena bayi tak pernah memiliki faktor X semisal bahaya. Bukankah bayi belum mengerti bahaya? Lagi pula, bayi sangat menyukai air sehingga ia pun akan suka diajak berenang. Nah, hal ini membuatnya jadi lebih mudah belajar berenang. Selain itu, bayi baru lahir hingga usia 3 bulan bisa langsung nyemplung  ke dalam air tanpa takut tenggelam, karena pada usia tersebut, ia memiliki refleks melangkah yang banyak kegunaannya untuk berenang. "Refleks melangkah merupakan salah satu refleks yang menyertai bayi seperti halnya refleks menggenggam dan refleks berjalan," jelas Dr. Karel Staa dari RS Pondok Indah, yang juga mantan perenang pemegang rekor 200 meter gaya dada pada 1960-1962.

Jadi, bila kita meletakkan bayi usia di bawah 3 bulan di dalam air, secara otomatis ia akan menggerak-gerakkan kakinya menyerupai paddle dog sehingga tak tenggelam. Bisa dikatakan, pada usia di bawah 3 bulan bayi sudah bisa berenang dengan gaya primitif. Bukan berarti setelah usia tersebut, bayi tak bisa berenang lagi, lo.

Kendati refleksnya sudah menghilang, ia tetap bisa melakukan gerakan berenang walaupun tak terorganisir atau acak-acakan. Soalnya, dengan ada gaya gravitasi, ia merasa ditekan dari bawah air sehingga ia bisa mengambang. Ia pun jadi senang. Apalagi sejak di perut ibu, bayi sebenarnya juga sudah berenang dalam air ketuban selama 9 bulan.

Setelah lahir, kemampuannya berenang tinggal ditingkatkan saja. Bahkan, saking populernya berenang ini, di luar negeri sampai ada proses melahirkan yang dilakukan di dalam air, lo. "Secara medis, hal ini tak akan menimbulkan masalah karena merupakan proses alami." Jadi, tak ada alasan lagi untuk ragu-ragu mengajak si kecil berenang, ya, Bu-Pak.

HARUS AMAN

Yang penting diperhatikan, ketika berenang bayi harus merasa aman dan memang harus ada pengaman. Jadi, orang tua harus mendampinginya. Ini syarat mutlak, lo. "Jika orang tua sama-sama masuk ke dalam air dan sama-sama berenang dengan bayi, maka selain merasa aman, bayi pun bisa merasakan ada respon dari orang tua," tutur Karel. Disamping, dengan orang tua mendampingi juga bisa bermain dengan bayi sehingga ada interaksi antar manusia. "Ini merupakan salah satu keunggulan berenang."

Coba bandingkan kala bayi baru belajar duduk atau berjalan, apakah orang tua akan mendampingi dan melakukan gerakan yang sama terus menerus dengan anak? Kan, enggak. "Nah, berenang lain. Mereka sama-sama masuk air, sama-sama berenang sehingga rasa enjoy -nya lebih. Ini akan berguna untuk perkembangan psikologis anak." Itulah mengapa, kedua orang tua sebaiknya ikut bersama bermain di dalam air. Tentunya, berenang juga berguna untuk pertumbuhan.

"Motoriknya berkembang lebih pesat ketimbang ia hanya bermain di lantai." Bukankah saat berenang, semua otot bekerja? Nah, kalau di lantai, hanya otot-otot tertentu saja yang bekerja. Apalagi jika ibu memberikan baby walker sehingga bayi jadi terbiasa berjalan dengan alat itu. Akhirnya, gerakan-gerakan ototnya jadi terbatas karena hanya otot-otot tertentu saja yang bekerja.

PERHATIKAN KEBERSIHAN AIR

Nah, kini Ibu-Bapak semakin mantap, kan, mengajak si kecil berenang? Tapi berenangnya di rumah saja, ya, kalau usia si kecil masih di bawah 6 bulan, agar bisa mengontrol kebersihan dan suhu airnya. Jangan lupa, di usia ini enzim pencernaan bayi belum matang. Jadi, kalau ia secara tak sengaja menelan air yang tak bersih kala berenang, bisa mengakibatkan mencret, muntah, dan sebagainya. Bukan berarti di rumah harus ada kolam renang, lo. Toh, banyak benda yang bisa dijadikan sebagai pengganti kolam renang seperti bak mandi, ember besar, bathtub , dan lainnya. Nah, biasakan bayi bermain di situ. "Sebenarnya, ketika bayi tengah mandi atau bermain air merupakan salah satu cara mengenali atau menghayati air pada anak," tutur Karel. Setelah bayi berusia 6 bulan ke atas barulah bawa ia ke kolam renang terbuka atau umum. "Tapi harus pilih, ya. Mungkin di Indonesia masih sulit karena kita, kan, enggak punya kolam berenang khusus bayi. Bahkan kebanyakan kolam renang di Jakarta, air yang dipakai itu-itu saja, muter saja di situ. Diputarnya pakai mesin lalu ditambahkan kaporit dan daun-daun atau kotorannya diangkat; sebulan sekali baru diganti." Hal ini dikarenakan sulitnya sumber air di Jakarta. Lain dengan di kota pegunungan seperti Bogor dan Cibodas, "mereka memiliki kolam renang yang airnya mengalir".

Jadi, bila mau membawa bayi berenang di kolam renang umum, pilih waktu yang tepat, yaitu ketika kolam renang masih dalam keadaan bersih; biasanya di waktu pagi. "Suhunya juga harus disesuaikan, sebaiknya jangan lebih dari 31 atau 32 derajat celcius."

Khusus untuk bayi usia satu bulan pertama, suhunya 34-35 derajat celcius. Kebersihan lain yang harus diperhatikan ialah kaporitnya, "jangan terlalu jenuh, karena kaporit bisa mengakibatkan iritasi kulit, mata, dan lainnya." Ukuran kaporit yang ditetapkan untuk anak adalah 6-8 ppm. Hati-hati, lo, Bu-Pak, jika bayi sudah merasa trauma karena matanya perih, misal, selanjutnya akan jadi kendala.

UNTUK REKREASI

Yang perlu diingat, jangan sampai orang tua mengajak bayi berenang untuk mengejar prestasi karena tujuan utamanya adalah rekreasi. Beberapa asosiasi kedokteran anak di luar negeri malah mengatakan, berenang pada anak usia di bawah 4 tahun jangan dijadikan tujuan untuk mengejar prestasi. Di atas usia itu barulah orang tua bisa mengajarkan gaya-gaya berenang yang ditargetkan untuk prestasi. Dalam bahasa lain, bayi berenang hanya untuk fun .

"Mulai usia setahun bolehlah diarahkan pada prestasi, tapi tidak dengan cara ditekan," ujar Karel. Misal, setiap hari harus berenang 50 meter bolak-balik. Soalnya, di usia tersebut ia baru bisa mengikuti gerakan-gerakan renang yang dilakukan orang tuanya. Sama halnya dengan bayi usia setahun yang suka marah-marah karena melihat orang tuanya yang suka marah-marah, begitu pula berenang.

"Kalau orang tua suka berenang dengan gaya yang cukup baik maka ia pun akan mengikuti." Jadi, ajak si kecil berenang untuk kesehatannya lebih dulu, ya, Bu-Pak. Soal gaya renang akan mengikuti secara otomatis bila ia sudah menyukainya. Jangan lupa, ketika mendampinginya, Ibu-Bapak juga harus fun, lo, bukan lantaran terpaksa.  

PERIKSA DULU KONDISI BAYI

   

Sebelum mengajak si kecil, Ibu-Bapak perlu memeriksakan kondisi fisiknya ke dokter. Pasalnya, ada beberapa bayi yang tak boleh melakukan aktivitas renang semisal bayi yang memiliki kelainan, seperti kelainan jantung bawaan. Sementara bayi prematur atau memiliki berat badan rendah ketika lahir, menurut Karel , bukan pantangan untuk diajak berenang.

"Bayi prematur, kan, lahirnya kurang bulan tapi dengan berjalan waktu ia akan mengejar ketinggalannya sehingga beratnya akan bertambah." Jadi, meski waktu lahir ia sempat tertinggal di belakang, namun pada titik tertentu ia akan bisa mengejar. Begitu pula bayi yang memiliki berat badan rendah. Hal lain yang harus diperhatikan ialah:

* Satu jam sebelum berenang, bayi harus sudah makan atau minum. Jangan ajak bayi berenang dalam keadaaan kekenyangan atau begitu makan langsung diajak berenang. Jangan pula mengajaknya berenang dalam keadaan lapar karena dikhawatirkan ia akan minum air kolam.

* Lama berenang paling efektif adalah setengah jam karena bayi perlu dijaga daya tahan tubuhnya atau dijaga agar tak bosan karena kelamaan.

* Orang tua juga perlu mempelajari pertolongan pertama, sehingga bila terjadi sesuatu yang tak dikehendaki bisa segera memberikan pertolongan pertama karena sudah tahu caranya.

BERENANG BISA BIKIN TINGGI, LO

   

Karena dengan berenang, motorik bayi akan aktif semua. Nah, dengan adanya aktivitas motorik akan merangsang pertumbuhan secara tak langsung, baik fisik maupun psikologis. "Lihat saja perenang yang baru mulai ketika berusia 20 tahun dan yang sudah mulai sejak kecil. Pasti perbandingan tingginya berbeda," kata Karel . Atau, perenang tahun 60-an dibandingkan para perenang sekarang, "pasti lebih tinggi juara renang yang sekarang karena mereka start -nya lebih awal." Satu lagi keuntungan berenang sejak kecil, ya, Bu-Pak.

MEMILIH BAJU RENANG

   

Bayi juga perlu pakai baju renang, lo, meskipun alasannya bukan medis tapi lantaran kebiasaan saja. Nah, dalam memilih baju renang, saran Karel,  pilih yang tak menghambat geraknya. "Hindari baju yang gombrong karena bila masuk air, baju ini akan menggelembung sehingga menghambat gerak bayi." Kalau sudah begitu, bisa-bisa si kecil jadi tak suka berenang atau lebih parah lagi ia akan trauma.

TRAUMA BERENANG

 Kalau si kecil sampai trauma, saran Karel, sebaiknya berenang dihentikan dulu. "Ajak bayi bermain di darat." Kalau ia tetap rewel, bawa pulang. Toh, lain hari bisa dibawa lagi. Jangan jadikan berenang sebagai suatu paksaan.

sumber : http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Berenang-Bikin-IQ-Tinggi

Pengaruh Mitos Selama Kehamilan Terhadap Bayi Anda

Selama ini ibu-ibu muda yang sedang hamil ditakutkan oleh mitos-mitos yang beredar, khususnya di Indonesia. Ketakutan ini disebabkan karena mitos-mitos tersebut kadang ada benarnya. Makanya, seorang wanita modern pun (walau tidak mengakui) mematuhi pantangan/pamali tersebut.
Mitos tersebut banyak sekali, misalnya:
  1. Ibu yang sedang hamil ataupun suaminya dilarang membunuh hewan melata. Karena nanti anaknya bisa lumpuh
  2. Ibu hamil dan suaminya tidak boleh membenci orang, karena nanti anaknya akan seperti orang tersebut
  3. Bila "ngidam" sang calon ibu tidak dipenuhi, anaknya akan "ileran"
  4. dan masih banyak contoh konyol-konyol lainnya
Yang menghawatirkan karena ternyata secar "kebetulan" mitos ini terjadi. Seperti saya tulis di awal para calon ibu pun dihantui oleh ketakutan-ketakutan tersebut. Kenapa?
Ternyata, hal ini lebih disebabkan oleh sugesti dan kondisi psikologis si ibu. Secara sederhana kerjanya begini: wanita yang sedang hamil mental dan psikologisnya sangat labil, sehingga ketika masuk input (mitos-mitos tadi), ia akan langsung menerimanya, ia mempercayainya, ia yakin kebenarannya. Lalu ketika ia mlakukan pantangan tersebut timbul kehawatiran yang sangat besar akan akibat dari melnggar pantangan tersebut. Sehingga emosinya jadi kacau dan kondisi psikologisnya bermasalah. Karena si bayi masih sangat erat hubungannya dengan sang ibu maka akan berpengaruh pula terhadap kondisi bayi. Bayi berhubungan langsung dengan ibu melalui plasenta. Akibatnya, secara "kebetulan" lagi mitos itu berlaku. (mirip cara kerja sihir0
Karena itu bila anda sangat menyayangi bayi anda anda tidak perlu cemas akan mitos-mitos tersebut. Sebab hal itu justru akan "merusak" buah hati anda kelak.