Rabu, 27 Oktober 2010

Di penghujung tahun

Di penghujung tahun ini, Indonesia dan sumatra barat pada khususnya kembali ditimpa bencana. Padahal trauma akibat gempa tahun kemarin belum sembuh.
 Yang anehnya walaupun tidak sama persis waktunya, tapi bencana itu sama-sama terjadi di penghujung tahun. Seharusnya ini benar-benar menjadi renungan bagi kita semua. Dan kita bisa saling menguatkan satu dengan yang lainnya.
Simpati dan doa untuk korban bencana pun sudah berdatangan dari masyarakat dunia. Seperti yang baru saja saya baca di situs okezone.com, beberapa selebritis hollywood menyampaikan rasa belasungkawanya melalui akun twitter mereka.
Kita, sebagai saudara terdekat mereka seharusnya memberi lebih dari sekedar ucapan belasungkawa. Kita bisa membantu apa yang bisa dibantu, menyumbang ala kadarnya dan memberikan do'a yang tulus.
Tapi saya masih memikirkan, kenapa  dipenghujung tahun ya?

Selasa, 19 Oktober 2010

Aku Ingin Mencintaimu Sekali Lagi

Rab,...
entah yang keberapa, kuucap kata ini dalam untai doa'
dan entah berapa kali pula aku melupakannya
sungguh, aku ingin tetap bertahan dalam cinta ini
tapi, bias-bias dengki menghalangi kekelannya
aku sadar sepenuhnya khilaf itu
seperti yang sudah-sudah
hati ini terlalu lemah untuk percaya
bahwa semua uji darimu memang perlu adanya
dan adalah tak pantas berpikir jadi orang paling malang sedunia
lalu dengan lancangnya menanyakan keadilanmu
Rab,..
sungguh sebenarnya aku ingin tetap mencintaimu,
hatiku berkata begittu
beri aku kesempatan sekali lagi
ijinkan aku mencintaimu lagi
benar-benar mencintaimu


Senin, 18 Oktober 2010

Takdir Dandelion

Siapa yang tak kenal bunga yang satu ini, ia sering kali tumbuh liar di persemakan atau malah jadi gulma bagi tanaman sayur-sayuran. Bagi petani ia merupakan musuh, namun bila dilihat-lihat bunga ini sangat indah. Mahkotanya (mungkin) yang putih-putih bersih bila terbang bersama angin akan memberikan suatu pemandangan yang luar biasa. 
Disitulah letak takdirnya, dandelion sepenuhnya bergantung kepada angin demi kelangsungan keturunannya kelak. Bila angin membawanya ke padang rumput yang subur, maka dandelion akan membentuk koloni baru kotanya ditempat tersebut. Namun, bila angin ternyata tidak bersikap baik ia bisa dibawa ke bebatuan gersang, sehingga tamatlah riwayatnya disitu. Tapi hal ini jarang terjadi. Mungkin Dandelion dan angin sudah bersekongkol atau mungkin juga Tuhan sudah menugaskan angin untuk membawa dandelion ke temapat ia bisa melanjutkan keturunannya.
Terlepas dari itu, dandelion adalah organisme yang gigih mempertahankan kelangsungan hidupnya. Ia sepenuhnya menyadari takdirnya yang sesederhana itu. Maka ia bisa ditemukan ditempat yang gersang, bersama koloninya ia membuat tanah gersang itu menjadi subur. Lalu melihat tanah yang subur, manusia menguasai tempat itu untuk budidaya sayuran. Dan dandelion....disingkirkan. Namun dandelion tak bisa komplain, ia diam saja ketika manusia mencabut lalu membuang atau membakarnya. Angin, sang belahan jiwa membawa biji-bijinya yang tersisa ketempat yang jauh. Yang akhirnya dandelion kembali membuat kota kecilnya, lalu, seperti yang sudah-sudah... ... demikianlah takdir dandelion, sesederhana itu.
Takdir manusia tidak sesederhana itu, takdir manusia berupa rentetan pilihan-pilihan yang ia tentukan sendiri. Ia bisa memilih kemungkina yang ini, yang itu, atau tidak memilih sekalipun (pasrah) sebenarnya merupakan sebuah pilihan. Yang pasti sebagi organisme tingkat tinggi yang organ tubuhnya palin sempurna dibanding organisme lainnya, manusia diberi kebebasan (atau tanggung jawab) yang lebih besar. Memang sesuatu yang besar menghendaki tanggung jawab yang besar pula.
Tidak seperti dandelion, takdir manusia tidak bergantung pada apapun (kecuali Tuhan yang maha segalanya). Tidak juga pada tukang ramal, tukang tenung, fengshui dan sebagainya. Manusia, sebagai organisme tingkat tinggi telah dikaruniakan takdir yang bisa ia pilih sendiri.

Minggu, 17 Oktober 2010

Om Jai Jagadish

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Sepertinya film-film bertema melankolis, memang bollywood rajanya. Seperti film ini, bukan film baru sebenarnya. Tapi, jalinan kisah mengenai keluarga ini masih sangat menarik bila ditonton sekarang.
Om, Jay, dan Jagadish, tiga orang beradik kakak yatim yang namanya sengaja diberi ayah mereka agar bisa diucapkan dalam satu tarikan nafas.
Om, yang tertua bekerja di sebuah perusahaan musik milik temannya. Ia seorang kakak yang mengorbankan apapun uyntuk adik-adiknya sampai melupakan urusan percintaannya. Sampai-sampai si bungsu Jagadish berulang kali mencarikan calon istri yang pas untuk abangnya. Hingga akhirnya memang berhasil menemukan seorang gadis yang setia menemani Om.
Jay, yang terobsesi dengan mesin disekolahkan si Amerika. Om meminjam uang kepada temannya untuk biaya kuliah Jay dengan syarat setelah lulus Jay harus bekerja di perusahaan miliknya. Masalah timbul ketika Jay tidak menerima hal ini, karena baginya Amerika adalah tempat yang tepat bagi mimpi-mimpinya. Ditambah lagi pengaruh istrinya yang manja dan egois. masalah bertambah pelik ketika sibungsu Jagadish dikeluarkan dari kampus dan tidak akan pernah bisa melanjutkan kuliahnya di universitas manapun, karena ketahuan membobol situs kampus dan mengubah nilai-nilai siswa. Jagadish melakukan itu demi solidaritas pada sahabatnya yang justru mengadukannya kepada rektor. Ditengah kekecewaannya pada Jay dan kemarahan pada Jagadish, om akhirnya mengusir Jagadish dari rumah. Ibu mereka hanya bisa menagis karena ia tahu bagaimana pengorbanan yang telah dilakukan Om untuk adik-adiknya.
Masalah belum tuntas, karena Om harus membayar uang aayang dipinjam pada temannya untuk kuliah Jay, yang jumlahnya sangat banyak. Untuk itu mereka harus kehilangan rumah, peninggalan satu-satunya ayah mereka dan dipecat dari perusahaan.
Om akhirnya berjuang merintis usaha sendiri dengan bantuan dari para mantan "penjahat teri". Bersama mereka memulai sebuah perusahaan musik baru dengan dukungan penuh dari istri dan ibunya.
Jay dan Jagadish yang mendengar berita ini merasa sangat bersalah. Masing-masing ketiga kakak beradik ini berusdaha untuk merebut rumah mereka kembali dengan caranya masing-masing.