Selasa, 16 Maret 2010

Titik Nadir

Ketika manusia berada di titik nadir kehidupannya, hanya ada dua kemungkinan. Dia mampu menemukan jalan untuk keluar dari titik nadir tersebut dan menjadi seorang juara. Atau ia akan makin terpuruk dengan keadaan itu dan selamanya jadi pecundang.
Semua orang pasti pernah berada dalam keadaan ini, hanya saja mereka memiliki cara yang berbeda ketika berada dalam situasi ini. Namun nasehat yang paling umum didengar adalah untuk "sabar", "tawakkal" beserta kawan-kawannya, seperri yang saya baca di blog salah satu rekan. Sederhana sekali memang, namun menjadi sesuatu yang sangat luar biasa ketika harus diamalkan.
Bagaimanapun ketika menghadapi keadaan ini, kita semua pasti berusaha untuk keluar dari situasi tersebut. Namun tidak ada yang bisa menjamin, kita telah menempuh jalan yang pas atau tidak sehingga nanti menentukan kita akan menjadi "the winner" atau "a truly looser".
Bila semua kata-kata motivasi dan nasehat tidak ada pengaruhnya lagi, adakah hal lain yang bisa ditawarkan?

Senin, 01 Maret 2010

Mempertahankan Niat

Kita semua pasti sangat akrab dengan kisah mengenai seorang laki-laki yang berusaha menghentikan kesyirikan didesanya. Yaitu dengan menebang pohon yang dikeramatkan oleh orang kampungnya, pada saat itu niatnya hanya satu yaitu ingin menghentikan kesyirikan itu. Maka dengan mudah ia bisa mengalahkan setan penunggu pohon itu. Namun setan itu dengan licik membuat "sebuah perjanjian" dengan sang lelaki, bila laki-laki itu tidak jadi menebang pohon tersebut ia akan menemukan uang dibawah bantalnya setiap hari. Akhirnya laki-laki itu tergoda dengan tawaran setan tersebut.
Hingga pada suatu hari ia tidak lagi menemukan uang dibawah bantalnya. Ia merasa setan itu telah berbohong dan dengan murka kembali berniat menebang pohon itu, namun kali ini ia berhasil dikalahkan oleh setan penunggu pohon. Karena niatnya sekarang bukan lagi untuk menghentikan kesyirikan yang disebabkan pohon itu tetapi karena marah sebab setan telah membohongi janjinya.
Suka atau tidak tabiat laki-laki dalam cerita diatas sepertinya memang sudah menggambarkan tabiat manusia sesungguhnya. Betapa begitu mudahnya keyakinan kita goyah hingga pada akhirnya menyimpang dari niat sebelumnya. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering menghadapi hal ini. Walaupun tidak sampai membelot terlalu jauh dari niat awal, niat kita seringkali bercabang ditengah jalan disebabkan banyaknya godaan.
Misalnya kebiasaan membaca al-quran sehabis magrib. pada saat ada tamu yang datang, kita sengaja membaca dengan irama yang lebih dimerdukan, lebih pelan, karena niat yang sudah bercabang yaitu selain mengharapkan pahala Allah juga "mengharap" pujian dari orang lain yang pada akhirnya menodai hati kita dengan sikap ria.
Karena itu, mempertahan niat agar tetap lurus sampai keujung dan tidak bengkok ataupun bercabang merupakan hal yang sangat sulit. Sungguh hanya orang-orang yang mempertahankan iman dan idealismenyalah yang sanggup melakukan hal itu. Dan kita harap bahwa bapak-bapak wakil kita di DPR pun demikian. Niat yang lurus pada awalnya untuk melindungi hak-hak rakyat dan sebagai kontrol dari kebijakan pemerintahan jangan sampai bengkok atau bercabang juga. Jangan sampai membelot dari niat awal dan jangan pula bercabang dengan kepentingan-kepentingan pribadi yang pada akhirnya mempertaruhkan idealisme sendiri.
Selamat berjuang pak, sungguh tugas yang bapak-bapak emban sangatlah berat!