Sabtu, 19 Desember 2009

a man who love the rain

I don’t know why?

But everytime i see the rain fall, i fell happy.

All of my loneliness like fall down with this.

I love it, too much…….

it’s wonder to hear the voice while it drop to land

it’s amazing to smell the land after the rain

setetes rindu

etetes rindu membasahi daun-daun hatiku

walaupun sedikit, perasaan itu masih kumiliki

begitu menyesakkan, sekaligus melegakan dahagaku,

tolong, inilah satu-satunya perasaan spiritual yang masih bercokol diraga hinaku,

ditengah topeng kemunafikanku,

ya Rabb,,,, jangan biarkan perasaan ini ikut hilang bersama noda-noda jelaga di hatiku

izinkan aku merindu Mu, itu saja………

Rabu, 16 Desember 2009

Ken Arok-Ken Dedes, Roman Epik Cinta Penuh Darah

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:wawan susetya
Membaca novel ini tak ubahnya dengan menyaksikan suatu film laga kolosal. Karena memang tiap adegan digambarkan dengan jelas. Menceritakan mengenai perjalanan hidup Ken Arok, raja Singosari yang fenomenal itu.
Terlahir sebagai anak haram yang dibuang ibunya dikuburan membuat Ken Arok diangkat sebagai anak oleh perampok. Besar di lingkungan yang kelam itu membuat Ken Arok tumbuh sebagai pribadi ugal-ugalan dan suka berjudi. Ia pun dikenal sebagai perompak yang sangat ditakuti. Namun demikian ia pribadi yang setia kawan, anti kesemena-menaan dan sangat tampan.
Diluar semua kejahatannya itu, Ken Arok memang ditakdirkan menjadi seorang raja, karena itu Dewa Wisnu mengirimkan Loh Gawe untuk melatih Ken Arok belajar darma sebagai seorang ksatria.
Ken Arok menjadi pengawal pribadi Tanggul Ametung dan istrinya Ken Dedes hingga akhirnya Ken Arok menjadi dekat dengan Ken Dedes setelah menolong Ken Dedes dari gangguan Sawung Agul. Benih-benih cinta pun tumbuh diantara mereka, selanjutnya Ken Arok akan menjalani takdirnya sebagai raja.

Senin, 14 Desember 2009

Tidak sekejam Firaun, tidak sebaik Musa

Pada zaman kekhalifan dulu, ada seorang kalifah yang sering menuai kontroversi karena kebijakannya. Banyak ulama yang memberi kritikan padanya. Namun demikian ia tetap menjalankan pemerintahan sesuai ketentuan. Suatu hari sangb khalifah tidak sengaja mendengar seorang ulama yang memberi sindiran tajam padanya ketika memberi ceramah di sebuah masjid. Saat itu khalifah terkejut, namun kemudian ia berpikir sang ulama hanya khilaf.
Berikutnya khalifah mendengar sindiran yang sama dari ulama tersebut di masjid yang lain. Tak pelak sekarang khalifah marah dan tersinggung lalu memanggil ulama tersebut.
"Apa kau tahu Musa?"
"Tentu saja yang mulia"
"Lalu apa kau lebih baik dari dia?"
Sang ulama berpikir sejenak dan berkata " tidak.........."
"kau tahu kekejaman firaun?"
Ulama itu mengangguk
"Apa aku lebih kejam dari Firaun, Firaun telah membunuh semua bayi laki-laki dan mengaku sebagai Tuhan. Apa aku lebih kejam dari dia?"
Sang ulama terdiam
"Kamu tidak lebih baik dari Musa dan aku tidak lebih kejam dari Firaun. Lalu kenapa kau tidak bisa bersikap lebih halus kepadaku?
***
Setelah itu sang ulama jadi lebih baik lagi menyampaikan kritikannya dan lebih menghormati khalifah. Ia tetap sering memberikan pengajian di masjid-masjid.
(dikutip dari "like father like son")
Ceritan ini sangat cocok sekali dengan kondisi di negara kita sekarang, bahwa ternyata tokoh-tokoh ulama seperti ini banyak sekali. Mungkin lebih baik kita menyampaikan pendapat dengan cara yang lebih baik.

Kamis, 03 Desember 2009

tentang kerinduan

Orang-orang bilang perpisahan dan pertemuan hanya merupakan masalah sudut pandang. Bila kita berada di pangkal, maka dilihat sebagai pertemuan. Namun bila kita melihat dari ujung, maka ia disebut perpisahan. Jadi tidak ada yang salah dari perpisahan, karena sesungguhnya perpisahan adalah pertemuan itu sendiri dalam paradox yang berbeda.
Harusnya begitu, namun kenapa perpisahan selalu menimbulkan dimensi yang lebih melankolis. Selalu ada haru disana. Mungkin perubahan sudut pandang yang mereka bilang itu tak ubahnya dua kutub yang sangat bertolak belakang.
Entahlah...yang jelas perpisahan menghasilkan sebuah sensasi yang luar biasa. Sensasi itu begitu meletup-letup dan baru menghilang ketika kau kembali berdiri dipangkal, kau sebut lagi pertemuan. Itulah yang disebut rindu.
Apa arti rindu bagimu? Bagiku rindu adalah suatu penantian, rindu merupakan kesetiaan, ia adalah wujud afeksi dan kasih sayang. Karenanya aku percaya bahwa pertemuan dan perpisahan adalah sama.
Mungkin benar yang dikatakan orang-orang, pertemuan dan perpisahan hanya merupakan masalah perbedaan sudut pandang. Dan kerinduan adalah benang merah yang menghubungkan keduanya.