Rabu, 30 September 2009

Pada Suatu Malam Pasca Gempa

Gempa kemarin, saya berada di bus angkutan Padang-Bukittinggi. Gempa menyebabkan longsor di Silayang sehingga bus terpaksa berbalik. (sampai sekarang masih belum bisa dilalui).
Bus akhirnya memutar jalan melalui Maninjau. Beberapa penumpang memutuskan untuk turun dan kembali ke Padang.Di jalan saya melihat banyak rumah yang rusak dan bahkan roboh di sepanjang Pariaman dan Lubuk Alung. Sampai saat itu saya berpiukir bahwa pusat gempa tadi berada di pariaman.
Penumpang masih gelisah, begitu juga saya karena sinyal Hand Phone pun tak ada untuk mengabari saudara ataupun mencari kabar. Dalam situasi seperti ini masing-masing orang menjadi empati dan saling membantu.
Saya baru menemui listrik menyala di daerah Maninjau. Hujan juga masih mengguyur sejak masih di Sicincin.
Saya baru sampai rumah pukul 01 malam (padahal dari Padang jam  04 sore). Karena mengantuk saya langsung tidur bada Isya. Padahal sebenarnya waktu itu sinyal HP sudah ada, dan saya bisa mencari tahu kabar teman-teman saya.
Paginya saya melihat berita bahwa ternyata sudah ada 26 orang korban gempa dan beberapa bangunan rubuh termasuk kampus UNAND. Saya jadi khawatir dan segera menghubungi teman-teman maupun saudara yang ada disana. Tapi sinyal hp juga sudah tidak ada. Saya menyesal tidak menghubungi mereka tadi malam.
Saya juga teringat dengan ibu-ibu yang kemarin duduk disebelah saya. Ibu itu mau menghadiri pesta pernikahan saudaranya di Padang Panjang. Ia memutuskan untuk kembali ke Padang ketika gempa terjadi, karena memikirkan anak-anaknya. Saya rasa keputusan ibu tepat. Semalam saya pikir ibu itu terlalu paranoid. Tapi tadi saya lihat di berita kawasan di dekat rumahnya juga ada yang rusak parah.
Saya hanya bisa berdoa' sekarang semoga saudara-saudara kita yang tertimpa musibah ini (termasuk ibu yang tadi) bisa tabah menghadapinya. Dan saya tahu rekan-rekan juga berharap demikian.
Amin!